TERNATE — Herman Oesman, dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, menilai Benteng Oranje saat ini berisiko menjadi ruang yang kehilangan narasi. Bangunan fisiknya masih berdiri kokoh dan halamannya ramai dikunjungi, tetapi pengetahuan tentang sejarah yang membentuknya tidak hadir secara memadai.
Catatan tersebut disampaikan Herman melalui tulisan berjudul "Benteng Tanpa Narasi" yang membahas pengelolaan situs warisan budaya di Ternate. Ia menyoroti kesenjangan antara keberadaan bangunan dan pemahaman sejarah yang seharusnya menyertainya.
Riwayat Benteng Oranje dan Peran dalam Jaringan Rempah
Benteng Oranje dibangun Laksamana VOC Cornelis Matclief de Jonge pada 26 Mei 1607, sekitar awal abad ke-17, setelah Belanda memperkuat kedudukannya di Ternate. Nama Oranje diberikan oleh Francois Wittlent pada 1609.
Bangunan ini pernah menjadi salah satu pusat kekuasaan kolonial Belanda di Kepulauan Maluku. Riwayatnya berkaitan erat dengan perdagangan cengkih, pengendalian jalur niaga, dan persaingan kekuasaan yang memengaruhi kehidupan masyarakat setempat.
Menurut Herman, sejarah semacam itu semestinya menjadi pintu masuk bagi pengunjung untuk memahami bagaimana rempah-rempah menghubungkan Kepulauan Maluku dengan jaringan perdagangan dunia. "Sejarah semacam itu semestinya menjadi pintu masuk bagi pengunjung untuk memahami bagaimana rempah-rempah menghubungkan kepulauan Maluku dengan jaringan perdagangan dunia, sekaligus menghadirkan ketimpangan dan dominasi kolonial," tulisnya.
Pengunjung Berhadapan dengan Bangunan, tapi Tidak Berjumpa Sejarah
Herman menilai pengalaman berkunjung ke situs bersejarah akan kehilangan kedalaman apabila tidak ditopang papan informasi, dokumen heritage, dan materi wisata yang menjelaskan konteks sejarahnya. Pengunjung membutuhkan informasi tentang kapan benteng dibangun, siapa yang membangunnya, apa fungsi politik dan ekonominya, serta bagaimana relasinya dengan Kesultanan Ternate.
Tanpa perangkat interpretasi tersebut, pengunjung dapat berjalan mengelilingi benteng tanpa memahami mengapa bangunan itu hadir. Mereka juga tidak memperoleh penjelasan tentang kekuasaan apa yang pernah beroperasi di dalamnya dan bagaimana warisan tersebut berhubungan dengan kehidupan Ternate sekarang.
"Benteng dapat berdiri kokoh, dindingnya tetap terlihat, dan halamannya ramai dikunjungi, tetapi makna sejarahnya justru memudar apabila pengunjung tidak memperoleh pengetahuan tentang peristiwa yang membentuknya," tulis Herman.
Fungsi Plaza Dinilai Dominan, Edukasi Terabaikan
Persoalan berikutnya yang disoroti Herman adalah kecenderungan pengelolaan benteng yang lebih menonjolkan fungsi plaza, ruang berkumpul, dan kawasan komersial. Benteng Oranje kini banyak digunakan sebagai tempat nongkrong, bersantai, dan menghabiskan waktu.
Aktivitas semacam itu tidak dipersoalkan. Ternate memang memiliki keterbatasan ruang terbuka untuk berinteraksi, sehingga keberadaan ruang publik dibutuhkan masyarakat kota.
Namun, persoalan muncul ketika fungsi rekreatif menjadi dominan sementara fungsi edukatif dan historis terabaikan. Herman menilai Benteng Oranje seolah diperlakukan seperti mal atau plaza terbuka.
Keramaian Tidak Selalu Menandakan Keberhasilan Pelestarian
Herman menegaskan perlunya membedakan antara menghidupkan situs bersejarah dan sekadar meramaikannya. Keramaian tidak selalu menandakan keberhasilan pelestarian, dan banyaknya pengunjung tidak otomatis menunjukkan meningkatnya apresiasi terhadap warisan budaya.
Ia merujuk pemikiran John H. Falk dan Lynn D. Dierking dalam karya "The Museum Experience