Pencarian

CNG 3 Kg Pengganti LPG Diuji Tuntas, Skema Distribusi Segera Diumumkan

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 08:50:01 WIB
CNG 3 Kg Pengganti LPG Diuji Tuntas, Skema Distribusi Segera Diumumkan
Kementerian ESDM menyatakan uji coba CNG 3 kg sebagai pengganti LPG telah rampung.

MALUKU UTARA — Kementerian ESDM menyatakan uji coba compressed natural gas (CNG) dalam tabung 3 kilogram sebagai pengganti LPG telah rampung dan hasil evaluasinya akan segera diumumkan ke publik. Evaluasi mencakup aspek teknis tabung hingga penyusunan skema tata niaga dan distribusi ke masyarakat. Hasil kajian ini akan menentukan apakah CNG 3 kg layak dilanjutkan sebagai alternatif energi rumah tangga.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pengujian teknis CNG tabung 3 kg masih dikaji mendalam oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Kajian itu berjalan bersamaan dengan penyelesaian skema bisnis pendistribusiannya. Pemerintah belum menetapkan kapan persisnya hasil evaluasi dipublikasikan.

Yang jelas, kata Yuliot, hasil kajian komprehensif akan disampaikan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. "Dalam waktu dekat ini hasil evaluasi itu akan disampaikan langsung sama Pak Menko," ujarnya kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/10/2026).

Mengapa CNG 3 Kg Digadang Jadi Pengganti LPG

Pemerintah mendorong CNG sebagai salah satu opsi mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Selama ini kebutuhan LPG rumah tangga nasional sebagian besar masih dipenuhi dari pasokan luar negeri. Beban subsidi LPG 3 kg juga terus membengkak seiring kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.

CNG menawarkan keunggulan dari sisi emisi dan potensi pasokan domestik yang lebih besar. Gas bumi Indonesia melimpah, sementara infrastruktur distribusinya masih menjadi pekerjaan rumah. Karena itu, tabung 3 kg dipilih agar ukurannya setara dengan LPG melon yang sudah akrab di dapur rumah tangga.

Lemigas Kaji Tabung hingga Proses Bisnis

Pengujian Lemigas tidak hanya menyentuh aspek keselamatan tabung. Lembaga itu juga menelaah rantai proses dari sumber gas hingga CNG masuk ke tabung. "Itu kan juga proses bisnisnya kan lagi diselesaikan oleh Lemigas," kata Yuliot.

Artinya, pemerintah ingin memastikan CNG 3 kg bukan sekadar layak secara teknis, tetapi juga masuk akal secara ekonomi. Skema distribusi yang disiapkan harus mempertimbangkan jarak pasokan, ketersediaan stasiun pengisian, hingga harga jual di tingkat pengecer. Tanpa perhitungan itu, CNG berisiko kalah bersaing dengan LPG yang sudah mapan.

Sejumlah negara tetangga seperti Thailand dan India lebih dulu memakai CNG untuk kendaraan dan rumah tangga. Indonesia sendiri sudah lama memanfaatkan CNG untuk bus TransJakarta dan kendaraan niaga. Namun penerapan di sektor rumah tangga dengan tabung kecil masih tergolong baru.

Dampak ke Rumah Tangga dan Pelaku Usaha

Jika CNG 3 kg resmi dilanjutkan, rumah tangga pengguna LPG melon berpotensi mendapat pilihan energi yang lebih murah dan stabil pasokannya. Namun peralihan ini menuntut penyesuaian kompor dan regulator, karena tekanan kerja CNG berbeda dari LPG. Biaya konversi alat masak menjadi pertanyaan yang belum dijawab pemerintah.

Bagi pelaku usaha kecil, seperti warung makan dan pedagang keliling, kepastian harga menjadi faktor penentu. Mereka selama ini bergantung pada LPG 3 kg bersubsidi. Jika CNG ditawarkan sebagai substitusi, pemerintah perlu memastikan harganya tidak melonjak dan pasokannya lancar di daerah terpencil.

Di sisi lain, produsen tabung dan jaringan distribusi gas berpeluang mendapat pasar baru. PGN, anak usaha Pertamina yang menggarap infrastruktur gas bumi, termasuk pihak yang berkepentingan menyiapkan stasiun pengisian CNG. Jaringan pipa gas kota yang sudah ada bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan pasokan ke konsumen.

Penutup: Keputusan pemerintah soal kelanjutan CNG 3 kg akan menjadi sinyal arah kebijakan energi rumah tangga dalam beberapa tahun ke depan. Jika skema distribusinya matang, CNG bisa menjadi alternatif nyata di tengah tekanan subsidi LPG yang terus membesar. Namun tanpa harga dan jaringan yang siap, program ini berisiko berhenti di tahap uji coba.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks