MALUKU UTARA — Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dan Direktur Utama KAI Properti Mohamad Ramdany telah meninjau langsung kesiapan lahan proyek tersebut. Peninjauan dilakukan untuk memastikan rencana pengembangan kawasan hunian yang terintegrasi dengan moda transportasi publik berjalan sesuai target.
Bagi warga yang kerap bermukim jauh dari pusat kota karena harga tanah yang melambung, kehadiran hunian vertikal di atas lahan milik BUMN ini bisa menjadi angin segar. Lokasinya yang dekat dengan stasiun memangkas waktu tempuh dan biaya transportasi harian secara signifikan.
Konsep TOD dan Pemanfaatan Lahan Strategis
KAI Properti tidak sekadar membangun gedung hunian biasa. Kawasan ini dirancang sebagai ekosistem yang menggabungkan tempat tinggal, akses transportasi publik, dan berbagai aktivitas pendukung dalam satu area terpadu.
Lahan yang selama ini merupakan aset KAI di sekitar Stasiun Manggarai akan dioptimalkan menjadi kawasan yang lebih produktif. Stasiun Manggarai sendiri merupakan salah satu stasiun tersibuk di Jakarta yang melayani Commuter Line, kereta jarak jauh, hingga nantinya terintegrasi dengan jaringan kereta cepat.
“Peninjauan hari ini menjadi bagian penting bagi KAI Properti untuk melihat secara langsung kesiapan lokasi dan memastikan rencana pengembangan kawasan dapat berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan. Pengembangan hunian vertikal di kawasan Manggarai ini merupakan bagian dari upaya KAI Properti dalam mengoptimalisasi lahan milik KAI sekaligus mendukung program pemerintah dalam bidang penyediaan hunian,” ujar Ramdany dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Mengapa Proyek Ini Krusial bagi Warga Jakarta
Kebutuhan hunian vertikal di Jakarta terus meningkat seiring terbatasnya lahan darat. Dengan skema TOD, penghuni tidak perlu lagi bergantung pada kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari.
Jarak 400 meter dari stasiun dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki 5-7 menit, sebuah angka yang ideal menurut standar perencanaan kota. Ini sekaligus menjawab persoalan macet dan polusi yang selama ini menjadi keluhan utama warga Jakarta Selatan dan sekitarnya.
Proyek ini juga menjadi uji nyata bagi kolaborasi antara kementerian dan BUMN dalam merealisasikan program prioritas nasional di bidang perumahan. Keberhasilan pembangunan di Manggarai berpotensi menjadi model bagi pengembangan kawasan TOD lainnya di kota-kota besar Indonesia.
Dengan total 3.784 unit yang tersebar di delapan tower, proyek ini akan menampung ribuan keluarga. Angka tersebut setara dengan kebutuhan hunian untuk sebuah kelurahan kecil, sebuah kontribusi nyata dalam menekan backlog kepemilikan rumah di ibu kota.
Ke depan, publik menunggu kepastian skema pembiayaan dan target serah terima unit. Jika berjalan mulus, kawasan Manggarai tidak hanya akan menjadi simpul transportasi, tetapi juga pusat permukiman modern yang terintegrasi.