MALUKU UTARA — Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa Dahana akan didorong untuk memperbesar skala bisnisnya. Targetnya, perusahaan yang berbasis di Tasikmalaya ini bisa mengantongi laba hingga Rp 2 triliun paling lambat tahun 2030.
"Jadi yang sehat kayak Dahana itu akan kita ekspansikan. Labanya mereka sekarang Rp 500 miliar, dengan market size yang kita punya, target kita bisa Rp 2 triliun," ujar Dony dalam keterangan resmi, Selasa (18/8/2026).
Dony yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara itu meminta Dahana memanfaatkan ekosistem bisnis di dalam Danantara Asset Management (DAM) untuk mendukung ekspansi. Langkah ini dinilai penting agar perusahaan bisa bergerak lebih agresif dan terarah.
Strategi Berbeda untuk BUMN yang Sehat dan Bermasalah
Pendekatan yang dilakukan Danantara terhadap BUMN tidak disamaratakan. Perusahaan yang memiliki kinerja baik seperti Dahana justru didorong untuk ekspansi, sementara BUMN yang menghadapi tantangan akan ditangani lewat skema restrukturisasi khusus.
"Yang sakit kita kelompokin sendiri restrukturisasinya. PTDI punya restrukturisasi sendiri, Pindad punya restrukturisasi sendiri, kemudian PAL punya restrukturisasi sendiri, Barata juga punya restrukturisasi sendiri," jelas Dony.
Dengan rencana bisnis yang spesifik untuk masing-masing perusahaan, strategi yang dijalankan diharapkan lebih fokus karena potensi pasarnya berbeda-beda. "Jangan disatuin nanti. Supaya nanti bisa fokus, karena market-nya bagus," tambahnya.
Perdana Tembus Pasar Australia
Langkah ekspansi Dahana sebenarnya sudah mulai terlihat. Pada April 2026 lalu, perusahaan ini untuk pertama kalinya mengekspor bahan baku peledak ke Australia. Sebanyak 18.000 ton Amonium Nitrat (AN) dikirim melalui Dermaga Terminal Khusus Pelabuhan Tursina, Bontang, pada Sabtu, 18 April 2026.
Amonium Nitrat merupakan komponen utama dalam pembuatan bahan peledak yang banyak digunakan di sektor pertambangan, baik tambang terbuka (open pit) maupun bawah tanah (underground mining). Australia dipilih karena sektor pertambangannya yang maju membutuhkan pasokan besar.
"Ekspor ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan dari sisi bisnis, tetapi juga menjadi simbol pengakuan atas kemampuan industri nasional dalam memenuhi standar global," ujar Direktur Utama Dahana, Hary Irmawan.
Keberhasilan menembus pasar Australia menjadi modal berharga bagi Dahana untuk mengejar target laba Rp 2 triliun. Dengan pasar ekspor yang terbuka dan dukungan ekosistem Danantara, perusahaan optimistis bisa mencapai target tersebut dalam empat tahun ke depan. Peningkatan kapasitas produksi menjadi kunci utama agar permintaan pasar yang terus bertumbuh bisa terpenuhi.