SOFIFI — Sherly Laos mengungkapkan persoalan utama rendahnya cakupan imunisasi di Maluku Utara bukan terletak pada ketersediaan vaksin. Pemerintah telah menjamin ketersediaan vaksin secara gratis di fasilitas kesehatan, mulai dari posyandu, puskesmas, hingga sekolah.
“Masalahnya adalah masih adanya rasa takut dan informasi yang keliru,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip baru-baru ini.
Vaksin Gratis, tapi Ketakutan Masih Menghantui
Sherly menegaskan bahwa imunisasi tidak menyebabkan kelumpuhan maupun kematian. Justru sebaliknya, anak yang tidak mendapatkan imunisasi memiliki risiko jauh lebih besar terpapar penyakit berbahaya yang berujung pada kecacatan atau kematian.
“Bukan dengan pengobatan yang mahal, tetapi dengan imunisasi,” kata Sherly, menekankan pentingnya tindakan pencegahan sejak dini.
BIAS Jadi Garda Terdepan Perlindungan Pelajar
Untuk menekan angka KLB, pemerintah daerah menggencarkan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Sherly mengajak seluruh elemen masyarakat—termasuk guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, media, dan generasi muda—untuk menyukseskan program tersebut.
“Vaksin tersedia gratis di sekolah, posyandu, puskesmas, dan fasilitas kesehatan. Mari pastikan setiap anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal,” tegasnya.
Investasi Masa Depan Menuju Indonesia Emas 2045
Menurut Sherly, memastikan anak tumbuh sehat adalah investasi paling berharga bagi masa depan Maluku Utara. Anak yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita.
“Tidak ada hadiah yang lebih berharga bagi seorang anak selain kesempatan untuk tumbuh sehat, belajar, dan meraih cita-cita,” tuturnya.
Sherly menutup imbauannya dengan seruan untuk memperkuat kesadaran kolektif demi melindungi generasi muda. “Mari lengkapi imunisasi, lindungi generasi dan bersama wujudkan Maluku Utara yang lebih sehat menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.