Karhutla Maluku Utara Hanguskan 3.314 Hektare Sepanjang 2026, Api Kembali Muncul di Tidore Kepulauan

Penulis: Jamal Nasution  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:16:02 WIB
Petugas gabungan memadamkan kebakaran lahan di Oba Utara, Tidore Kepulauan.

TIDORE KEPULAUAN — Api muncul pertama kali dari kawasan yang ditumbuhi bambu dan sagu, lalu merambat cepat ke hutan serta lahan kosong milik warga. Kondisi tanah yang kering ditambah angin kencang membuat penyebaran api sulit dibendung, sehingga tim gabungan dikerahkan ke lokasi.

Peristiwa di Oba Utara menjadi penanda bahwa musim kemarau di Maluku Utara belum benar-benar berakhir. Sepanjang 2026, luas lahan yang terbakar di provinsi ini dilaporkan menembus 3.314 hektare.

63 Titik Kebakaran Tercatat dalam Tiga Bulan

Data penanganan kebakaran mencatat 63 titik kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 302 hektare selama periode Juli hingga 18 September 2026. Sebanyak 24 titik di antaranya berada di sekitar kawasan permukiman.

Lokasi yang berdekatan dengan rumah warga menaikkan risiko terhadap keselamatan jiwa dan bangunan. Petugas kerap harus bergerak cepat mencegah api menjalar ke area yang lebih padat penduduk.

Mengapa Api Mudah Merambat di Maluku Utara?

Curah hujan yang berkurang membuat vegetasi mengering. Semak belukar, dedaunan, dan lahan gambut menjadi bahan bakar yang mudah tersulut.

Pembakaran sampah sembarangan, pembukaan lahan dengan cara dibakar, hingga sumber api lain berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan. Angin kencang memperparah kondisi itu dengan mempercepat rambatan api mengikuti arah angin.

Risiko tidak hanya menyasar kawasan hutan. Lahan perkebunan, semak belukar, dan area di sekitar permukiman juga masuk kategori rentan terdampak.

Bukan Sekadar Pemadaman

Luasan lahan yang terbakar menunjukkan persoalan ini tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan pemadaman di satu lokasi. Pemantauan kawasan rawan, kesiapan personel dan peralatan, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk menekan risiko.

Pendataan kejadian secara konsisten juga dibutuhkan. Informasi soal lokasi, luas lahan terdampak, penyebab, dan pola kejadian membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas pencegahan.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama cuaca kering. Membakar sampah tanpa pengawasan atau membuka lahan dengan api dapat memicu kebakaran yang merembet ke vegetasi di sekitarnya.

Dampak Kemarau Meluas ke Sektor Lain

Kekeringan berpotensi mengganggu aktivitas pertanian dan mengurangi ketersediaan air bersih. Warga yang menggantungkan hidup pada lahan dan sumber daya alam paling terdampak kondisi ini.

Selama cuaca kering masih berlangsung, ancaman kebakaran di Maluku Utara belum bisa diabaikan. Kebakaran di Kaiyasa dan Gusale menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus dijaga sebelum api kembali meluas.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: cermat.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top