TERNATE — Delapan foto mantan pimpinan IAIN Ternate—Dekan, Ketua, dan Rektor—yang berbaris di dinding sisi timur ruang rapat Rektorat memiliki kemiripan dengan pas foto kartu identitas. Namun, fungsinya berbeda. Jika pas foto menjadi alat validasi petugas bandara, delapan foto ini adalah monumen yang menyimpan narasi panjang tentang dinamika kampus dan masyarakat di sekitarnya.
Murid Tonirio, dosen Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) IAIN Ternate, memanfaatkan deretan foto tersebut sebagai titik masuk menulis sejarah institusi dalam satu tarikan napas dengan sejarah sosial-budaya orang-orang Maluku Utara.
Urutan orang-orang dalam bingkai foto itu tidak seragam asal-usulnya. Selain Alhadar yang dikenal sebagai keturunan Arab, etnisitas para pimpinan lainnya membutuhkan pengetahuan khusus untuk menelusurinya.
Lopa dan Sahbuddin berasal dari Mandar, Sulawesi, sementara Noor Sulaiman datang dari Palu. Abdullah DP dan Marasabessy berasal dari wilayah Maluku sekarang, masing-masing dari Geser-Seram dan Ambon-Tolehu. Dua nama lain, Yahya Misbah dan Abdjan Jahja, adalah putra asli Maluku Utara.
Jika garis-garis ditarik menghubungkan daerah asal mereka di atas atlas, akan terbentuk bentangan geografis yang menghubungkan dua benua, Afrika dan Asia Tenggara. Dalam konteks Indonesia modern, peta itu juga membentang melintasi dua zona waktu berbeda: Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.
Murid Tonirio menilai keberadaan para pimpinan dari beragam latar itu bukan sekadar catatan kontribusi terhadap pendirian dan perkembangan IAIN Ternate. Lebih dari itu, foto-foto tersebut menggambarkan kisah paling padat sejarah sosial-budaya orang-orang Maluku Utara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Maluku Utara, sejak lama, merupakan wadah peleburan beragam suku bangsa menjadi satu kesatuan budaya hibrid. Jejaknya masih terekam hingga kini, setidaknya dalam penamaan kampung seperti Kampung Makassar dan Fala Jawa, dengan mayoritas pendudukan keturunan Arab.
Kampus IAIN Ternate, menurut Murid Tonirio, telah menjadi melting pot sedari awal, sama seperti wilayah Maluku Utara yang menaunginya. Keberagaman muasal mantan pimpinannya adalah bukti bahwa institusi ini tumbuh dari rahim masyarakat yang plural.
Murid Tonirio menggunakan pendekatan epistemologi Jean Paul Sartre yang menempatkan individu sebagai diri-subyek di antara karyanya dan sejarah sosialnya. Individu bersifat tunggal karena ditunggalkan oleh karya-karyanya, tetapi menjadi jamak karena dijamakkan oleh sejarah sosial.
Menurut Sartre, menulis sejarah merupakan usaha terus-menerus menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan menjadi satu lanskap sejarah. Dari delapan foto itu, Murid Tonirio melihat lanskap yang menghubungkan dinamika progres dan stagnasi yang telah dan sedang dialami IAIN Ternate.
Yang menarik, dua dari delapan foto tersebut—yakni milik Lopa dan Alhadar—tidak mencantumkan angka tahun masa pengabdian. Hal ini menjadi celah yang memperkaya narasi, sekaligus mengundang publik untuk menelusuri lebih jauh jejak kepemimpinan mereka dalam sejarah kampus.