DARPA Minta Ide Industri untuk Satelit ‘Plug and Play’ yang Bisa Ganti Sistem Orbit yang Hancur dalam Hitungan Jam

Penulis: Hendri Saputra  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 10:17:31 WIB
DARPA mengundang industri untuk mengembangkan satelit ‘plug and play’ dengan kemampuan rekonstitusi cepat.

Dalam permintaan informasi (RFI) yang dirilis Jumat lalu, DARPA menyebut inisiatif ini sebagai Rapid Reconstitution of Space Capabilities. Tujuannya sederhana namun ambisius: memastikan Pentagon bisa mengembalikan kemampuan satelit yang hilang akibat serangan langsung, gangguan sinyal, atau serangan siber dalam waktu yang sangat singkat.

“Luar angkasa kini menjadi lingkungan yang kian diperebutkan, menghadirkan banyak ancaman terhadap aset AS,” tulis DARPA dalam pengumuman resminya. “Karena itu, ada kebutuhan strategis untuk bisa merespons cepat terhadap aset yang terganggu dan merekonstitusi kemampuan luar angkasa yang menurun.”

Ancaman Nyata dari China dan Rusia

Kekhawatiran DARPA bukan tanpa dasar. China dan Rusia telah beberapa kali menghancurkan satelit mati mereka sendiri dalam uji coba senjata ASAT. Lebih dari itu, US Space Force mencatat adanya aktivitas China yang disebut sebagai “manuver pertempuran jarak dekat” antar satelit—sebuah taktik orbital yang sebelumnya hanya ada di skenario perang fiksi ilmiah.

Rusia juga dituduh mengembangkan senjata anti-satelit yang mungkin melibatkan nuklir orbit, memaksa AS memperbarui armada satelit pendeteksi peluncuran nuklir. “Kompetitor AS menerapkan upaya berkelanjutan untuk mengembangkan berbagai kemampuan ofensif di luar angkasa,” tambah DARPA.

Inspirasi dari Misi Victus Nox: 27 Jam ke Orbit

DARPA merujuk pada misi Victus Nox tahun 2023 yang digelar US Space Force, di mana sebuah wahana antariksa berhasil diluncurkan ke orbit hanya 27 jam setelah perintah diberikan. Rekor itu menjadi tolok ukur—dan DARPA ingin hasil yang lebih cepat lagi.

“Kami mencari solusi teknis dan konsep operasional yang memungkinkan rekonstitusi cepat, responsif, dan hemat biaya atas kemampuan luar angkasa yang hilang atau menurun akibat serangan,” jelas DARPA. Target waktu pemulihan yang diminta: hitungan jam hingga minggu, untuk skenario kehilangan aset maupun lonjakan permintaan mendadak.

Satelit ‘Software-Defined’ dan Arsitektur Mesh

Untuk mewujudkan visi ini, DARPA membuka pintu bagi berbagai pendekatan teknis. Mulai dari muatan yang bisa dikonfigurasi ulang secara perangkat lunak (software-defined payloads), satelit multifungsi, hingga arsitektur mesh yang menyebar dan konsep peluncuran cepat di orbit.

“Rekonstitusi cepat kemampuan luar angkasa adalah tugas yang kompleks,” DARPA mengakui. Artinya, jangan berharap riset ini bergerak secepat roket yang nantinya akan diproduksi. Tapi dengan catatan bahwa Amerika baru saja melahirkan triliuner pertama di dunia—dan dia adalah seorang pebisnis antariksa, Elon Musk—pertanyaan soal pendanaan mungkin bukan masalah terbesar.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: theregister.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top