Presiden Jerman Steinmeier Puji Toleransi Beragama Indonesia Usai Kunjungi Istiqlal-Katedral

Penulis: Kemal Batubara  •  Senin, 15 Juni 2026 | 18:10:01 WIB
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol toleransi beragama.

MALUKU UTARA — Orang nomor satu di Jerman itu tiba di kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, didampingi sang istri, Elke Büdenbender, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dari Istiqlal, rombongan berjalan kaki menuju Gereja Katedral Jakarta melalui Terowongan Silaturahmi, sebuah lorong bawah tanah yang menghubungkan dua rumah ibadah besar tersebut. Terowongan itu selama ini menjadi ikon fisik toleransi yang sering dikunjungi delegasi asing.

Apresiasi Atas Kerukunan yang Terjaga

Dalam pernyataannya seusai kunjungan, Steinmeier mengaku sudah lama mengetahui kehidupan harmonis antarumat beragama di Indonesia. Ia merujuk pada pengalaman kunjungan sebelumnya yang memberinya gambaran langsung tentang kerukunan tersebut. Menurut Steinmeier, toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.

"Nilai toleransi yang terjaga dengan baik menjadi salah satu kekuatan yang dimiliki Indonesia," ujar Steinmeier.

Presiden Jerman itu menekankan bahwa upaya Indonesia dalam merawat toleransi dan keberagaman layak mendapat apresiasi. Nilai-nilai tersebut, kata dia, juga menjadi salah satu kesamaan yang mempererat hubungan Indonesia dan Jerman di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga diplomasi kebudayaan.

Terowongan Silaturahmi sebagai Ikon

Terowongan Silaturahmi yang dilintasi Steinmeier memiliki panjang sekitar 30 meter dan dibangun pada 2019. Lorong itu tidak hanya berfungsi sebagai akses fisik, tetapi juga simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling terhubung. Sejak diresmikan, terowongan ini kerap menjadi lokasi kunjungan para pemimpin dunia yang datang ke Jakarta.

Kunjungan Steinmeier ke dua rumah ibadah itu berlangsung setelah ia bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan bilateral tersebut membahas sejumlah isu strategis, termasuk kerja sama perdagangan, investasi, dan transisi energi. Agenda wisata religi dan budaya menjadi penutup rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Jerman kali ini.

Pengakuan Diplomatik atas Keberagaman

Apresiasi dari kepala negara asing terhadap toleransi beragama di Indonesia bukan kali ini saja terjadi. Sejumlah pemimpin negara, termasuk dari Australia, Kanada, dan Vatikan, sebelumnya juga memuji kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Namun, kunjungan langsung ke Istiqlal dan Katedral memberikan dimensi simbolis yang lebih kuat dalam hubungan bilateral.

Menteri Agama Nasaruddin Umar yang mendampingi Steinmeier sepanjang kunjungan menyebut bahwa momen tersebut menjadi pengakuan internasional terhadap model kerukunan Indonesia. "Ini menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan," ujar Nasaruddin dalam keterangan terpisah.

Kunjungan Presiden Jerman ke dua tempat ibadah itu diharapkan dapat memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan praktik toleransi yang matang di mata komunitas internasional. Steinmeier pun meninggalkan pesan bahwa nilai-nilai yang ditemukannya di Jakarta adalah modal berharga yang patut terus dirawat.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: video.medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top