MALUKU UTARA — Aksi yang berlangsung di area depan gedung FEB Unair itu dihadiri oleh puluhan peserta yang membawa poster dan bergiliran berorasi. Mereka membacakan pernyataan sikap bersama yang menyoroti sejumlah persoalan fundamental, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, melonjaknya biaya hidup, hingga menyempitnya lapangan pekerjaan.
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB Unair, Yeni Mafrukah, menyebut aksi ini merupakan wujud keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat. Ia menegaskan bahwa diam di tengah kondisi ekonomi yang carut-marut bukanlah pilihan bagi kalangan akademisi.
"Kami ingin mengajak seluruh nafas-nafas ekonomi yang masih berpihak kepada cita-cita bangsa untuk mendesak pemerintah menindaklanjuti tujuh desakan ahli ekonomi yang sudah disampaikan pada September 2025 lalu," kata Yeni dalam orasinya.
Tujuh poin yang kembali digaungkan mencakup evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan APBN, penghentian misalokasi anggaran, hingga penguatan independensi institusi negara. Massa juga mendesak pemerintah menghentikan praktik dominasi negara yang mematikan ruang tumbuh UMKM dan pelaku usaha lokal.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, mahasiswa menuntut reformasi regulasi, perizinan, dan birokrasi secara menyeluruh. Hal ini dinilai krusial untuk menciptakan iklim investasi yang sehat sekaligus membuka lapangan kerja berkualitas.
Desakan lainnya adalah prioritas kebijakan pengurangan ketimpangan sosial-ekonomi melalui perlindungan sosial yang tepat sasaran. Massa juga meminta pemerintah mengembalikan prinsip kebijakan berbasis data dan riset, serta menghentikan praktik kebijakan populis yang membebani fiskal negara.
"Kami tidak ingin ketika kami diam itu digunakan sebagai hal-hal yang diarahkan. Diam bukan sebuah keberpihakan," tegas Yeni.
Aksi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota, seperti Bandung pada Kamis (11/6) dan Jakarta pada Jumat siang. Namun, Yeni memastikan pihaknya belum berencana turun ke jalan dalam waktu dekat.
"Rencana aksi semuanya akan dibahas ketika kondisi sudah urgent. Kami akan melakukan konsolidasi kembali," ujarnya.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa aksi pernyataan sikap ini terbuka untuk umum. Sejumlah mahasiswa dari kampus lain, seperti BEM FEB Unesa, serta beberapa kelompok masyarakat sipil turut bergabung dalam orasi tersebut.