PULAU MOROTAI — Sebanyak 83 calon siswa tercatat telah mengisi formulir pendaftaran di SMK Presiden Morotai untuk tahun ajaran perdana. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari daya tampung sekolah yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jababeka, Desa Falila, Kecamatan Morotai Selatan itu.
Kepala SMK Presiden Morotai, Hi Muhlis Bay, mengungkapkan bahwa tingginya minat tidak hanya datang dari warga Pulau Morotai. Sejumlah pendaftar berasal dari Halmahera Utara, Kota Ternate, bahkan dari Ambon, Maluku.
“Sebenarnya masih banyak yang ingin mendaftar, hanya saja kami dibatasi oleh waktu penutupan pendaftaran. Bahkan sampai hari ini masih ada orang tua siswa yang datang langsung maupun menghubungi kami melalui telepon,” ujar Muhlis, Kamis (4/6/2026).
Konsep pendidikan berbasis asrama dengan pembinaan karakter menjadi faktor utama yang menarik perhatian orang tua. Salah satu wali calon siswa, Mursal, mengaku memilih SMK Presiden karena fasilitas pendukung dan sistem kedisiplinan yang diterapkan.
“Selain fasilitasnya yang mendukung, anak-anak juga lebih aman karena tinggal di asrama dan diterapkan sistem semi militer,” kata Mursal.
Ia menambahkan, model pembinaan tersebut diyakini mampu membentuk pribadi siswa yang disiplin dan berkarakter sejak dini. Harapannya, lulusan sekolah ini tidak hanya cakap secara vokasi tetapi juga memiliki mental kuat.
Hi Muhlis Bay menilai ledakan pendaftar ini menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah vokasi yang baru beroperasi. Padahal, SMK Presiden baru membuka penerimaan untuk pertama kalinya pada tahun ini.
“Kuota pada pendaftaran pertama ini hanya 44 siswa yang diterima. Saat ini yang mendaftar sudah 83 siswa lulusan SMP dan MTs yang siap mengikuti tes,” ungkapnya.
Kehadiran SMK Presiden menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di wilayah timur Indonesia. Sekolah ini diharapkan mampu mencetak tenaga kerja terampil yang siap diserap oleh industri di kawasan ekonomi khusus Jababeka dan sekitarnya.