Danantara Rencanakan Pemisahan Kimia Farma dari Holding Bio Farma, Manajemen Buka Suara

Penulis: Indra Firmansyah  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 12:46:01 WIB
Direktur Utama Kimia Farma menegaskan tidak inisiatif keluar dari holding Bio Farma, mengikuti keputusan Danantara.

MALUKU UTARA — Rencana pemisahan ini diungkap Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam dalam acara Public Expose di kantor Bio Farma Group, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Ia menegaskan, pihaknya tidak memiliki inisiatif untuk keluar dari holding, melainkan sepenuhnya mengikuti keputusan dari Danantara dan Bio Farma.

"Kami menunggu dari Biofarma, karena kami sebagai objek di sini. Bukan kami berinisiatif, tapi kami ada sebagai objek, di mana teman-teman dari Bio Farma lah yang akan menentukan," kata Djagad.

Proses Deholdingisasi dan Rasionalisasi Produk

Djagad belum bisa memastikan kapan pemisahan itu akan dieksekusi. Ia menyebut, pelaksanaan deholdingisasi masih menunggu arahan Bio Farma. Namun, di sisi lain, Kimia Farma sudah mulai bergerak melakukan efisiensi internal.

"Pelaksanaan deholdingisasi, kita menunggu saja, sesuai dengan arah Bio Farma. Tapi kalau streamlining, pengurangan atau mengurangi jumlah anak usaha, itu kita sedang berproses," jelasnya.

Salah satu langkah nyata yang sudah diambil adalah memangkas portofolio produk. Sepanjang tahun 2025, Kimia Farma merasionalisasi sebanyak 181 produk yang tidak lagi diproduksi. Hasilnya, jumlah produk eksisting perseroan turun dari 675 menjadi 494 produk.

"Kimia Farma melakukan rasionalisasi atau penghapusan produk yang tidak kita teruskan produksinya sebesar 181 produk, sehingga jumlah produk eksisting pada tahun 2025 turun dari 675 menjadi 494," pungkas Djagad.

Arah Baru Holding BUMN Farmasi

Wacana pemisahan Kimia Farma dari Bio Farma menjadi sinyal adanya perubahan besar dalam peta industri farmasi BUMN. Selama ini, holding BUMN farmasi yang dipimpin Bio Farma juga menaungi PT Indofarma Tbk. Rencana Danantara untuk memangkas jumlah BUMN secara drastis dinilai sebagai upaya untuk menciptakan perusahaan negara yang lebih ramping, efisien, dan kompetitif.

Bagi investor dan masyarakat, langkah ini bisa berdampak pada struktur bisnis Kimia Farma ke depan. Jika resmi terpisah, perusahaan farmasi pelat merah tertua di Indonesia itu harus berjalan mandiri tanpa sokongan penuh dari holding, baik dari sisi pendanaan maupun jaringan distribusi. Sebaliknya, Bio Farma bisa lebih fokus mengkonsolidasikan bisnis inti vaksin dan produk biologisnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi dari Danantara maupun Bio Farma mengenai jadwal pasti pemisahan tersebut. Kimia Farma menyatakan akan mengikuti seluruh arahan dari regulator dan induk usaha.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top