17 Rumah Baru untuk Keluarga Miskin di Weda Malut Diresmikan, Anggaran Bersumber dari APBD dan CSR

Penulis: Hendri Saputra  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 19:38:29 WIB
rumah layak huni di Weda resmi diserahkan kepada keluarga miskin dengan dukungan APBD dan CSR.

HALMAHERA TENGAH — Puluhan keluarga di wilayah pesisir Weda kini tak lagi tinggal di rumah semi-permanen. Tujuh belas unit rumah layak huni telah diresmikan dan langsung diserahterimakan kepada warga miskin di Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, dalam program bantuan sosial yang digarap sejak tahun anggaran 2024 lalu.

Setiap rumah dibangun dengan spesifikasi 6 x 6 meter, berdinding bata, dan beratap seng. Bantuan ini menyasar warga yang masuk dalam data penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan warga tidak mampu lainnya yang rumahnya sudah tidak layak huni.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Halmahera Tengah menyebutkan bahwa anggaran pembangunan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Weda Bay Nickel. Nilai total proyek mencapai Rp 2,5 miliar untuk 17 unit rumah.

Mengapa Program Ini Diprioritaskan di Weda

Weda merupakan salah satu kecamatan dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di Maluku Utara karena keberadaan kawasan industri nikel. Namun, kesenjangan sosial masih terlihat jelas antara pekerja pabrik dan warga lokal yang tinggal di pemukiman padat.

Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, dalam sambutannya saat peresmian menekankan bahwa program ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan upaya memutus rantai kemiskinan struktural. “Rumah ini adalah modal awal. Anak-anak bisa belajar dengan tenang, orang tua bisa bekerja tanpa khawatir atap bocor,” ujarnya.

Fakta Singkat Program Rumah Layak Huni Weda

  • 17 unit rumah dibangun di tiga desa: Desa Weda, Desa Fritu, dan Desa Gemaf.
  • Rp 2,5 miliar total anggaran, terdiri dari APBD Rp 1,8 miliar dan CSR Rp 700 juta.
  • 6 bulan waktu pengerjaan, dimulai Juli 2024 dan rampung Desember 2024.
  • Prioritas penerima: keluarga dengan anggota lansia, difabel, atau anak usia sekolah.

Apa Dampaknya bagi Warga Penerima

Salah satu penerima manfaat, Siti Hawa, warga Desa Weda, mengaku kini tidak perlu lagi mengumpulkan kayu untuk menambal dinding rumahnya yang bolong. Ia tinggal bersama tiga anaknya dan suami yang bekerja sebagai buruh bangunan harian.

“Dulu kalau hujan, kami mengungsi ke tetangga. Sekarang Alhamdulillah, sudah punya kamar sendiri untuk anak-anak,” kata Siti saat ditemui di rumah barunya pekan lalu.

Pemerintah daerah menargetkan penambahan 30 unit rumah serupa di tahun anggaran 2025, menyasar kecamatan lain seperti Wasile dan Patani yang juga memiliki kantong kemiskinan tinggi. Syarat penerima akan diperketat dengan verifikasi langsung ke lapangan untuk menghindari salah sasaran.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top