SOFIFI — Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda memastikan distribusi 100 ekor sapi kurban menyasar 10 kabupaten/kota pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha tahun ini. Program ini, kata dia, merupakan bagian dari paket kebijakan taktis Pemprov untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan.
“Menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha, Pemprov Maluku Utara telah menyiapkan beberapa langkah taktis,” ujar Sherly di Sofifi, Minggu (17/5).
Selain distribusi hewan kurban, Pemprov akan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara rutin di sepuluh kabupaten/kota. Komoditas yang disiapkan mencakup beras, bawang, cabai, dan tomat—barang kebutuhan pokok yang harganya kerap melonjak jelang hari raya.
Di sektor pertanian, Pemprov mendapat sokongan dari Kementerian Pertanian berupa program cetak sawah baru seluas 10 ribu hektare. Selain itu, 4.600 hektare sawah di Halmahera Utara dan Halmahera Timur akan diaktivasi kembali untuk meningkatkan produksi beras lokal.
Bulog RI turut mengalokasikan anggaran pembangunan enam gudang logistik baru di Maluku Utara. Keenam titik ini diharapkan memperkuat stok pangan daerah yang selama ini bergantung pada pasokan luar.
Sherly mengungkapkan inflasi year on year Maluku Utara per Mei 2026 berada di angka 2,03 persen, sementara year to date 2,59 persen—keduanya di bawah rata-rata nasional. Capaian ini merupakan hasil koordinasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga.
Meski demikian, ketergantungan pasokan pangan masih menjadi titik lemah. Sekitar 80 persen kebutuhan beras Maluku Utara dipasok dari luar daerah. Kondisi serupa terjadi pada ayam potong dan telur, yang harganya masih terpaut jauh dibandingkan Pulau Jawa dan Sulawesi.
Untuk mengatasi hal itu, Pemprov terus menjalin kerja sama dengan investor guna mengelola kawasan peternakan seluas 5 hingga 10 hektare. Targetnya, pada 2026 Maluku Utara sudah memiliki peternakan ayam petelur sendiri agar harga telur lebih kompetitif.
Persoalan lain yang masih membayangi adalah ketersediaan Minyak Kita. Sherly menyebut kebutuhan daerah mencapai 600 ribu liter, namun stok yang tersedia di gudang baru sekitar 100 ribu liter. Pemda saat ini terus berkoordinasi dengan pusat untuk memenuhi kuota tersebut.
“Kami juga berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat terkait pemenuhan kuota stok Minyak Kita. Dari kebutuhan 600 ribu liter, saat ini baru tersedia sekitar 100 ribu liter di gudang,” pungkasnya.