MALUKU UTARA — TPA Dar es Salam selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi pembuangan sampah terbesar di Conakry. Di sekitar area tersebut, banyak warga yang tinggal di bangunan semi-permanen dan menggantungkan hidup dari aktivitas pemilahan sampah.
Curah hujan tinggi yang turun dalam beberapa jam terakhir membuat tumpukan sampah di TPA menjadi tidak stabil. Material yang bercampur tanah dan air akhirnya bergerak menimpa permukiman liar di lereng bawah TPA.
Sejumlah warga yang tinggal di sekitar lokasi menyebut suara gemuruh sempat terdengar sebelum material longsor tiba. Namun, waktu yang singkat membuat banyak warga tidak sempat menyelamatkan diri.
Tim penyelamat gabungan di Guinea masih melakukan pencarian korban di lokasi longsor. Alat berat dikerahkan untuk memindahkan tumpukan sampah dan tanah yang menimbun sejumlah titik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Guinea mengenai jumlah warga yang masih hilang. Namun, pihak berwenang memperkirakan jumlah korban bisa bertambah seiring proses pencarian yang terus dilakukan.
Peristiwa longsor di TPA Dar es Salam ini menjadi pengingat atas risiko yang dihadapi warga yang bermukim di sekitar tempat pembuangan sampah. Kejadian serupa pernah terjadi di sejumlah negara berkembang, di mana permukiman informal kerap berdiri di dekat area TPA tanpa sistem pengelolaan yang memadai.
Pemerintah Guinea pun dihadapkan pada tekanan untuk merelokasi warga yang tinggal di zona rawan di sekitar TPA. Namun, keterbatasan lahan dan anggaran menjadi kendala utama dalam upaya penataan kawasan tersebut.