Tambang Emas Gosowong di Halmahera Utara Targetkan Hemat 1.920 Meter Kubik Air per Hari Lewat Daur Ulang

Penulis: Galih Prayoga  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 12:16:31 WIB
PT Nusa Halmahera Minerals menargetkan penghematan air baku hingga 1.920 meter kubik per hari melalui proyek daur ulang air di Tambang Emas Gosowong.

HALMAHERA UTARA — PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) tengah menggenjot proyek DST Water Recovery & Recycling Project di Tambang Emas Gosowong, Halmahera Utara, Maluku Utara. Inisiatif ini dirancang untuk menekan konsumsi air baku dari sungai yang selama ini menjadi andalan utama proses produksi.

Dengan kebutuhan air proses harian mencapai 5.400 meter kubik, NHM membidik penghematan 20 hingga 30 persen atau setara 1.680–1.920 meter kubik per hari. Target awal difokuskan pada pengurangan pemakaian air baku di mesin penggiling utama (Raw Water Mill Process).

Air Olahan DST Tidak Langsung Dipakai untuk Mesin Penggiling

Air yang berasal dari fasilitas pengeringan limbah tambang (DST), kolam penjernihan (Polishing Pond), dan RSPK tidak serta-merta langsung digunakan. Air olahan dari DST terlebih dahulu dialirkan ke kolam penjernihan sebelum masuk ke mesin penggiling utama.

"Prinsip yang kami terapkan adalah menggunakan air sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kebersihannya masing-masing. Air olahan dari DST kami alirkan lebih dulu ke kolam penjernihan sebelum digunakan untuk mesin penggiling utama, karena kualitasnya belum sepenuhnya memenuhi standar yang lebih tinggi," ujar Yoga Mei Rizal, Assistant Superintendent – DST & Water Management NHM.

Untuk kebutuhan air domestik di camp dan kantor serta proses pemurnian emas (elution), NHM tetap mempertahankan penggunaan air sungai. Standar kualitas air yang dibutuhkan pada tahapan tersebut dinilai belum bisa dipenuhi oleh air hasil daur ulang.

Mengapa Air Sungai Masih Dipakai untuk Proses Tertentu

Keputusan mempertahankan air sungai untuk sebagian proses didasari kebutuhan spesifik operasional. Air dengan tingkat kejernihan lebih tinggi masih diperlukan pada tahap pengolahan tertentu yang menuntut standar ketat.

Penerapan sistem daur ulang ini dilakukan bertahap, mulai dari perencanaan, desain teknis, pembangunan, uji coba, hingga penyempurnaan sistem. NHM mengakui ada sejumlah tantangan di lapangan, seperti variasi elevasi permukaan tanah yang menyulitkan aliran gravitasi, panjang jalur penyaluran, serta menjaga kualitas air olahan agar konsisten sesuai standar.

Menjaga Keandalan Pasokan Tanpa Ganggu Produksi

Kapasitas fasilitas penyimpanan juga menjadi perhatian utama. NHM harus memastikan sistem berjalan andal tanpa mengganggu aktivitas produksi yang sedang berlangsung.

"Air merupakan salah satu aset paling penting bagi keberlangsungan operasional tambang, terutama di wilayah seperti Halmahera Utara. Proyek ini menjadi langkah nyata NHM untuk menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang, sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber air di sekitar area tambang," kata Denny Lesmana, General Manager Geology Resources & Support NHM.

Dukungan untuk PROPER Hijau dan Ketahanan Air Jangka Panjang

Optimalisasi daur ulang air tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya operasional. Langkah ini juga berkontribusi pada konservasi lingkungan dan memperkuat capaian NHM dalam program lingkungan PROPER Hijau.

Melalui pendekatan ini, NHM menegaskan DST kini tidak lagi sekadar fasilitas pengeringan limbah tambang, melainkan bagian integral dari sistem pengelolaan air yang lebih terpadu dan berkelanjutan. Perusahaan berkomitmen terus mengoptimalkan setiap tetes air yang dapat didaur ulang untuk mendukung operasional tambang yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top