MALUKU UTARA — Desa Bulugede di Kabupaten Kendal menjadi lokasi uji coba program pemberdayaan ekonomi berbasis digital yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang. Program bertajuk "Bulugede Go Digital" ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga praktik langsung pembuatan konten promosi untuk 66 unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Kegiatan yang berlangsung di posko KKN ini menghadirkan dosen UIN Walisongo, Fathimah Nadia Qurrota A’yun, sebagai pemateri utama. Para peserta mendapat arahan teknis mengenai optimalisasi platform seperti WhatsApp Business, Facebook, Instagram, dan TikTok untuk memperluas jangkauan pasar.
Salah satu materi yang menjadi sorotan peserta adalah pengenalan Formula 3S. Metode ini terdiri dari Second pertama (Hook) untuk menarik perhatian di detik awal, Si isi video sebagai penyampaian informasi produk, dan Silakan beli sebagai ajakan bertransaksi (Call to Action).
Fathimah menegaskan bahwa pelaku UMKM tidak perlu menunggu memiliki peralatan kamera profesional untuk memulai pemasaran digital. Aktivitas produksi sehari-hari, foto produk sederhana, hingga testimoni pelanggan dinilai cukup menjadi bahan konten yang autentik dan menarik.
"Konten itu tidak harus bagus-bagus amat atau estetik seperti konten influencer. Yang penting rutin tiap hari, pelaku UMKM bisa mulai dari apa yang mereka punya dan dari aktivitas usaha sehari-hari," ujar Fathimah dalam sesi pelatihan.
Koordinator Desa KKN UIN Walisongo Posko 201, Miftachul Fattah, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan puncak dari rangkaian pendataan dan pendampingan yang telah dilakukan timnya selama berada di Desa Bulugede. Proses pendataan terhadap 66 UMKM dilakukan untuk memetakan potensi dan kendala yang dihadapi pelaku usaha sebelum pelatihan dimulai.
"Pendampingan yang kami lakukan tidak hanya sebatas pendataan, tetapi juga berupaya membantu pelaku UMKM untuk mulai beradaptasi dan bertransformasi dengan perkembangan teknologi di era digital ini," kata Miftachul.
Resnawati, salah satu peserta workshop, mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai strategi promosi yang selama ini terkesan rumit. Ia menyebut praktik langsung memotret produk dan menyusun caption menjadi pengalaman berharga yang langsung bisa diterapkan.
"Saya sangat terbantu dengan diadakan workshop ini, jadi lebih paham bahwa promosi tidak harus rumit. Dari foto produk dan aktivitas sehari-hari saja ternyata sudah bisa dibuat menjadi konten untuk menarik pembeli," ungkapnya.
Kehadiran program digitalisasi dari mahasiswa KKN ini menjadi sinyal positif bagi percepatan adopsi teknologi di kalangan usaha mikro daerah. Berbeda dengan program pemerintah yang seringkali berfokus pada bantuan modal, pendekatan ini menitikberatkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam memanfaatkan kanal digital.
Miftachul berharap inisiatif ini tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Para pelaku UMKM didorong untuk konsisten mengunggah konten secara mandiri sebagai langkah membangun kepercayaan konsumen terhadap produk lokal Bulugede.
"Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar bagi perkembangan UMKM Desa Bulugede," pungkasnya.