TERNATE — Aktivitas perburuan satwa liar kembali menghantui populasi kuskus bermata biru di Pulau Ternate. Yuhdi Safi, pengelola wisata Pulo Tareba, menemukan sekelompok pemburu yang membawa senapan di kawasan perbatasan Kelurahan Takome dan Sulamadaha saat dalam perjalanan menuju kota untuk berbelanja.
Dalam perjalanannya, Ibeng—sapaan akrabnya—berpapasan dengan sekitar tiga orang yang membawa senapan. Saat ditanya tujuan mereka, rombongan tersebut mengaku hendak berburu kuskus atau yang akrab disebut kuso oleh masyarakat setempat.
“Kalian mau tembak apa?” tanya Ibeng.
Kelompok itu mengaku tidak mengetahui adanya aturan perlindungan terhadap satwa endemik tersebut. Ibeng bahkan sempat melihat seekor kuskus yang sudah berada di tangan para pemburu.
Bagi Ibeng, kejadian ini bukan yang pertama. Ia menyebut sedikitnya sudah mengetahui empat kasus serupa yang terjadi di kawasan habitat kuskus. Para pemburu yang ditemuinya rata-rata berasal dari Jailolo, Halmahera Barat.
“Besar kemungkinan mereka akan kembali karena orang-orang ini sebenarnya sudah berulang kali melakukan itu. Hanya saja mungkin belum dapat kesempatan yang pas,” kata dia, Minggu (16/8/2026).
Ibeng memilih tidak mengambil tindakan berisiko karena kejadian berlangsung larut malam dan ia seorang diri. Kelompok pemburu yang membawa senapan membuatnya hanya bisa melakukan pendekatan persuasif.
“Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya bilang sudah, balik saja atau pulang,” ujarnya.
Persoalan perburuan kuskus sebenarnya sudah berulang kali disuarakan komunitas pemerhati lingkungan. Ibeng mengaku persoalan ini pernah disampaikan langsung kepada Wali Kota Ternate, termasuk usulan penguatan perlindungan melalui Peraturan Daerah (Perda).
Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut konkret dari pemerintah daerah. Minimnya penegakan aturan dikhawatirkan membuat perburuan terus berulang dan memperbesar tekanan terhadap populasi kuskus di alam.
Perlindungan satwa liar membutuhkan pengawasan dan penegakan aturan yang konsisten, bukan hanya kesadaran masyarakat. Tanpa itu, keberadaan kuskus bermata biru semakin terdesak di habitatnya sendiri.
Di tengah belum jelasnya respons pemerintah, Ibeng dan komunitas memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan ancaman terhadap kuskus. Kampanye ini diharapkan mendorong aparat dan pemerintah mengambil langkah nyata.
Saat menemukan dugaan perburuan Minggu malam itu, Ibeng sempat mempertimbangkan menghubungi kepolisian maupun Babinsa. Namun, ia mengurungkan niat karena berada seorang diri sementara kelompok tersebut membawa senapan.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa ancaman terhadap kuskus belum berakhir. Pertanyaan yang muncul bukan hanya siapa pemburunya, tetapi seberapa serius perlindungan dilakukan sebelum satwa itu sulit ditemukan di alam liar.