TERNATE — Puluhan mahasiswa dari Unkhair dan sejumlah kampus di Kota Ternate kini dibekali keterampilan khusus untuk menjadi "teman bicara" yang baik. Mereka adalah peserta Pelatihan Konseling Sebaya yang digagas UPA BK Unkhair, sebuah program yang menyasar persoalan kesehatan mental yang kerap tak terlihat di lingkungan kampus.
Wakil Rektor I Bidang Akademik Unkhair, Dr. Drs. Hasan Hamid, M.Si, menegaskan bahwa persoalan psikologis mahasiswa jarang muncul ke permukaan. Tekanan akademik, konflik relasi, hingga masalah pribadi disebutnya dapat menggerus kondisi mental seseorang secara perlahan.
Mengapa Teman Sebaya Menjadi Kunci Deteksi Dini?
Dr. Hasan menjelaskan, mahasiswa yang bermasalah seringkali lebih dulu bercerita kepada teman dekatnya, bukan ke dosen atau konselor profesional. Di titik inilah peran konselor sebaya menjadi krusial sebagai garda terdepan deteksi dini.
"Minimal dengarlah. Setiap kita pasti punya teman yang sangat akrab dan tidak akan membongkar rahasia. Ketika ada teman yang curhat atau menyampaikan sesuatu yang membutuhkan perhatian, kita harus bisa mendengarkan," ujarnya di sela-sela pelatihan.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak pada kemajuan teknologi dan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya ruang curhat. "Jangan karena kemajuan teknologi lupa dengan orang di sebelah kiri dan kanan kita. Kita masih membutuhkan sentuhan dan kehadiran teman," kata Dr. Hasan.
Bekal Materi: dari Empati Hingga Batas Kewenangan
Kepala UPA BK Unkhair, Dr. Andi Agustan Arifin, S.Pd., M.Pd., mengatakan pelatihan ini merupakan program perdana untuk memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental di lingkungan sivitas akademika. Para peserta tidak hanya diajarkan cara mendengarkan, tetapi juga memahami batas kemampuan mereka sebagai konselor sebaya.
Materi yang dihadirkan meliputi komunikasi empatik, literasi kesehatan mental, pendampingan tanpa menghakimi, serta strategi penyelesaian masalah. Dua pemateri dari bidang psikologi dan konseling, Fiki Febrian Dwi Prasetya, S.Pd., M.Psi., Kons dan Novi Elisadevi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memandu jalannya sesi.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai batas kewenangan. Jika ditemukan persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, kader konselor sebaya diharapkan mampu mengarahkan temannya kepada konselor profesional di kampus.
Target: Jaringan Mahasiswa Peka Kondisi Sekitar
Pasca pelatihan, UPA BK Unkhair menargetkan terbentuknya jejaring mahasiswa yang sigap mengenali tanda-tanda awal tekanan psikologis. Mereka menjadi perpanjangan tangan layanan bimbingan dan konseling yang ada di kampus.
"Harapannya, kita bisa mendeteksi lebih awal jika ada persoalan atau gangguan psikologis sehingga mahasiswa dapat memperoleh pendampingan," harap Dr. Hasan.
Dengan penerapan aturan akademik yang semakin ketat, kehadiran kader konselor sebaya dinilai relevan. Mereka dapat membantu kampus mengenali perubahan perilaku mahasiswa, termasuk mereka yang mulai menarik diri dari lingkungan sosial atau mengalami kesulitan akademik.