MALUKU UTARA — Angka efisiensi yang saya catat selama 266,9 mil—atau sekitar 429 km—pemakaian nyata di jalanan California adalah 3,63 mi/kWh (setara 5,84 km/kWh). Ini sedikit turun dari rekor 4 mi/kWh yang saya raih di model 2025, tapi tetap menempatkan Air Touring di liga yang berbeda dibanding BMW i7 M70 yang cuma 2,3 mi/kWh atau Porsche Taycan 4 yang 2,56 mi/kWh. Satu-satunya yang bisa menyaingi adalah Audi A6 Sportback e-tron dengan 3,7 mi/kWh, tapi itu mobil dengan harga lebih rendah dan tenaga lebih kecil.
Yang paling mengejutkan justru kecepatan charging di rumah. Lewat colokan listrik 120V standar, Air Touring mengisi 41 mil (66 km) dalam semalam kurang dari 12 jam—kecepatan 3,49 mil/jam yang memimpin kelas luxury EV. Untuk pemilik rumah di Indonesia yang mengandalkan listrik rumah biasa, ini artinya mobil bisa "minum" semalaman dan siap dipakai harian tanpa perlu membangun home charging khusus.
Desain Supercar yang Langka di Kelas Sedan Listrik
Air Touring duduk rendah dan lebar di aspal, dengan kap mesin yang diukir dan garis atap yang meruncing pelan. Siluetnya mengingatkan saya pada Mitsubishi 3000GT dan Dodge Stealth era 90-an—mobil yang terlihat cepat bahkan saat parkir.
Yang membuat desain ini istimewa: ia tidak mengorbankan ruang kabin. Padahal biasanya desain coupe-like selalu berakhir dengan kepala penumpang belakang menyentuh kaca. Di Air Touring, ruang kaki belakang kelas eksekutif tetap ada. Ini kombinasi yang hampir tidak pernah muncul di segmen ini.
Interior Minimalis dengan Ruang Kaki Terbaik di Kelasnya
Lucid mengambil pendekatan berbeda dari Tesla atau Mercedes. Kabinnya bersih, dengan material premium dan ventilasi udara yang disembunyikan. Layar Pilot Screen di konsol tengah bisa menyusut masuk ke dashboard saat tidak dipakai, membuat interior terasa lebih lapang dan tidak berantakan.
Duduk di kursi pengemudi, saya merasa seperti berada di lounge pesawat premium—bukan di dalam mobil listrik yang penuh layar. Ruang kaki depan dan belakang adalah yang terbaik yang pernah saya rasakan di sedan listrik mana pun, termasuk BMW i7 yang harganya hampir dua kali lipat.
Handling: Menyenangkan di Tikungan, Bukan Cuma Lurus
Tekan pedal gas dalam mode Sprint, dan 620 hp dari dua motor listrik langsung menekan tubuh ke jok. Akselerasi 0-96 km/jam dalam 3,4 detik terasa brutal, tapi itu bukan bagian terbaiknya.
Di jalan pegunungan, Air Touring berbelok dengan presisi yang mengejutkan untuk sedan sebesar ini. Titik gravitasi rendah, setir terasa rapat, dan sasisnya kompak. Saya sudah menguji Porsche Taycan dan Audi RS e-tron GT tahun ini—Air Touring tertinggal sedikit di belakang mereka dalam hal kemurnian handling, tapi jaraknya sangat tipis. Untuk mobil yang juga harus jadi sedan keluarga, ini pencapaian luar biasa.
Frunk Terbaik di Kelasnya, Tapi Bagasi Belakang Kurang
Kompartemen depan Air Touring adalah yang terbaik yang pernah saya temukan di sedan listrik. Desain dua tingkat dengan ruang bawah yang dalam bisa memuat koper kabin, tas belanja besar, bahkan paket tinggi yang tidak muat di bagasi belakang.
Bagasi belakangnya sendiri punya bukaan lebar yang muat untuk barang panjang seperti skuter listrik saya. Tapi clearance vertikalnya rendah—koper besar atau kotak tinggi akan kesulitan masuk. Ini kompromi yang wajar untuk desain supercar, tapi perlu diketahui sebelum membeli.
Kursi Pijat yang Bikin Betah Perjalanan Jauh
Kursi depan Air Touring empuk dan suportif, dan yang lebih penting: fungsi pijatnya benar-benar bekerja, bukan sekadar getaran halus. Sistem ini menekan titik-titik tekanan di punggung dan paha secara aktif, membuat perjalanan 3 jam terasa seperti 30 menit. Penumpang depan mendapat perlakuan yang sama—jarang ada di kelas ini.
Dua Kelemahan yang Sulit Dimaafkan di Harga Rp 1,6 Miliar
Kamera blind spot di spion samping adalah titik terlemah teknologi Lucid. Saat menyalakan sein, feed kamera muncul di layar pengemudi—fitur yang bagus—tapi kualitas videonya patah-patah dan buram, terutama di malam hari. Untuk mobil dengan harga segini, ini terasa seperti prototipe yang belum selesai.
Lebih mengkhawatirkan lagi: sistem Highway Assist sering gagal aktif. Selama seminggu pengujian, fitur ini berkali-kali menampilkan status "tidak tersedia" bahkan di jalan tol besar yang seharusnya didukung. Saat berfungsi, lane-keeping dan kontrol jaraknya mulus. Tapi frekuensi kegagalannya membuat saya tidak bisa mempercayainya sepenuhnya.
Verdict: Untuk Siapa Mobil Ini Layak Dibeli?
Dengan harga tes Rp 1,6 miliar, Air Touring jelas bukan mobil untuk semua orang. Tapi di kelasnya, ia menawarkan paket yang tidak bisa ditiru kompetitor: efisiensi terbaik, desain paling menarik, dan ruang kabin paling lega dalam satu paket.
Bandingkan dengan BMW i7 yang dihargai Rp 3 miliar lebih atau Porsche Taycan di Rp 2,2 miliar—Air Touring menang telak dalam hal jarak tempuh dan biaya pengisian rumah. Jika prioritas Anda adalah efisiensi dan desain, ini pilihan paling masuk akal di segmen mewah.
Tapi jika Anda menginginkan fitur ADAS yang bisa diandalkan setiap saat, atau kamera blind spot yang tajam, mobil ini akan membuat Anda frustrasi. Audi A6 Sportback e-tron tetap menjadi alternatif yang lebih masuk akal untuk uang Anda—efisiensinya hampir sama, harganya jauh lebih rendah, dan fitur-fiturnya lebih lengkap.
Air Touring adalah mobil untuk orang yang rela berkompromi pada teknologi setengah matang demi mendapatkan pengalaman berkendara yang benar-benar istimewa. Jika itu Anda, mobil ini tidak akan mengecewakan.