Pencarian

Burung Endemik Bidadari Halmahera Terlihat di Hutan Hamiding, Tokoh Adat Tobaru Desak Pembabatan Dihentikan

Selasa, 04 Agustus 2026 • 08:19:01 WIB
Burung Endemik Bidadari Halmahera Terlihat di Hutan Hamiding, Tokoh Adat Tobaru Desak Pembabatan Dihentikan
Burung Bidadari Halmahera terabadikan kamera tim pengamat di kawasan Hutan Hamiding, Halmahera Utara.

SOAKONORA — Tim pengamatan yang terdiri dari dua wisatawan Eropa, wartawan media daring, dan dua pemandu lokal Desa Soakonora berhasil memotret Burung Bidadari Halmahera di sekitar dusun sagu peninggalan leluhur di Wako. Dalam bahasa Tobaru, burung ini dikenal dengan sebutan melunu.

Marcel, salah satu wisatawan dalam tim, mencatat sedikitnya 84 spesies burung di sekitar Hutan Hamiding melalui aplikasi identifikasi. Namun kegembiraan itu terusik oleh suara mesin chainsaw yang terdengar dari dalam hutan.

"Ada yang hanya bisa didengar suaranya, ada juga yang sempat dilihat dan difoto. Sayangnya, terdengar suara mesin chainsaw di sekitar hutan. Saya khawatir habitat burung endemik dan burung lainnya terganggu," ujarnya.

Hutan Adat yang Kian Terdesak

Kawasan Wago, Hamiding, Wako hingga Talaga Peke merupakan wilayah yang secara turun-temurun dikelola masyarakat adat Tobaru Sangaji Nyeku. Demas Mou, tokoh adat Tobaru dari Desa Soakonora, menegaskan kawasan ini memiliki batas-batas teritorial berburu berdasarkan marga masing-masing.

"Pemilihan lokasi pengamatan dan fotografi burung di Hutan Hamiding bukan baru kali ini. Kami sudah melakukannya sejak 2008 bersama saudara saya yang berprofesi sebagai pemandu wisata ekowisata," kata Demas, Sabtu (1/8/2026).

Ia berharap pemerintah turun tangan membatasi aktivitas pembabatan yang makin meluas. "Semoga ada dukungan pemerintah untuk melakukan pencegahan dan pembatasan agar hutan ulayat kami tetap terjaga. Hutan yang sudah dibabat sekarang cukuplah sampai di situ, jangan diperluas lagi," ujarnya.

Dampak Nyata di Sungai: Erosi dan Menipisnya Sumber Pangan

Ancaman tidak hanya menyentuh kawasan hutan. Abner Atomo, warga Soakonora yang menjadi pemandu tim, menyaksikan langsung perubahan drastis di Sungai Ira. Penebangan pohon di sepanjang aliran sungai memicu erosi yang membuat sungai semakin dangkal.

"Dulu Sungai Ira dan Subi-subingi cukup dalam dan alirannya lancar. Sekarang menjadi dangkal karena tumpukan pohon dan lumpur," kata Abner.

Kondisi ini memukul ekosistem perairan. Udang dan sogili atau sidat yang sebelumnya mudah ditemukan, kini sulit didapat. Abner menyebut penggunaan alat setrum untuk menangkap ikan turut memperparah kerusakan ekosistem sungai.

Kendati demikian, Abner masih memegang teguh tradisi berburu rusa dengan peralatan tradisional, sebuah praktik yang diwariskan turun-temurun dan dinilai lebih ramah lingkungan.

Potensi Geowisata di Tengah Ancaman Ekologis

Di sela pengamatan burung, rombongan juga menyusuri Air Terjun Subi-subingi dan kawasan panas bumi yang dinilai memiliki potensi dikembangkan sebagai destinasi geowisata. Temuan ini membuka peluang ekonomi alternatif bagi warga tanpa harus merambah hutan.

Keberadaan Burung Bidadari Halmahera di habitat aslinya menjadi penanda bahwa Hutan Hamiding masih layak menjadi rumah bagi satwa endemik. Namun tanpa langkah konkret menghentikan pembabatan, kekayaan hayati yang menjadi kebanggaan Maluku Utara ini bisa hilang sebelum sempat dinikmati generasi berikutnya.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cermat.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks