50 Anak dan Remaja Morotai Ikut Kemah Selancar 4 Hari, Belajar Jaga Ombak hingga Ekosistem Laut

Penulis: Hendri Saputra  •  Rabu, 04 November 2026 | 18:46:31 WIB
Peserta Kemah Konservasi Selancar Morotai ke-3 mengikuti materi di bibir pantai.

MOROTAI — Peserta kemah tidak hanya datang dari Morotai. Sejumlah anak dan remaja turut didatangkan dari Sumba, Nusa Tenggara Barat, hingga Supiori di Papua untuk saling bertukar pengalaman menjaga laut di kampung halaman masing-masing.

Kegiatan bertajuk Kemah Konservasi Selancar Morotai ke-3 (Morotai Surf Conservation Camp) ini berada dalam rangkaian Festival Morotai 2026. Program berjalan di bawah payung Surf Ecosystem Conservation (Konservasi Ekosistem Selancar) yang digarap ILMMA bersama pemerintah daerah.

Empat Hari Belajar di Bibir Samudra Pasifik

Metode pelatihan dikemas interaktif. Peserta diajak belajar lewat bermain, mengamati, dan berpraktik langsung di atas pasir maupun di dalam air.

Materi yang dibekali mencakup isyarat keselamatan, sistem buddy atau berpasangan, cara membaca pergerakan ombak, angin, dan arus, hingga memetakan ekosistem selancar dan etika berselancar. Kemah juga melatih para asisten selancar lokal agar semangat konservasi tetap menyala di desa setelah acara usai.

Rangkaian acara ditutup pada Sabtu, 7 November 2026, lewat eksibisi selancar para peserta serta penyerahan sertifikat.

Ombak Kelas Dunia Bergantung pada Terumbu Karang dan Mangrove

Sekretaris Daerah Pulau Morotai Muhammad Umar Ali menegaskan, kemah konservasi selancar sudah diproyeksikan sebagai agenda tahunan bersama ILMMA.

"Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai sangat mendukung kerja ILMMA bersama masyarakat dalam konservasi sepanjang tahun. Kemah konservasi selancar ini menandai langkah berikutnya: menyiapkan generasi muda dan masyarakat untuk menjaga ombak mereka. Kami ingin kemah ini menjadi agenda tahunan yang mendukung program pemerintah daerah," ujar Umar.

Umar mengingatkan, ombak hebat tidak lahir dari laut yang rusak. Kualitas ombak hanya terjaga jika terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, dan kawasan pantai tetap sehat serta bebas dari perusakan.

Saling Berguru Antardaerah, dari Sumba hingga Supiori

Direktur ILMMA Cliff Marlessy menyebut edisi ketiga terasa hangat karena menjadi ajang saling berguru antardaerah. Kehadiran peserta dan champion dari Sumba, Nias, dan Supiori memberi warna baru dalam bertukar pengalaman menjaga laut, didampingi pelatih selancar berpengalaman tingkat nasional dan internasional.

"Morotai itu istimewa, tetapi perlu dijaga dengan baik. Kemah ini yang pertama di Indonesia Timur yang melibatkan masyarakat dan anak-anak, di Morotai yang termasuk daerah 3T. Dari kemah pertama hingga ketiga, animo masyarakat dan dukungan organisasi semakin besar. Kini, ILMMA bekerja bersama organisasi lokal dan internasional di Morotai melalui konsorsium Surf Ecosystem Conservation," terangnya.

Cliff berharap anak-anak yang dilatih tidak hanya andal berselancar, tetapi juga menjaga lingkungan agar ombak Morotai selalu ada.

"Kami berharap anak-anak yang dilatih tidak hanya andal berselancar, tetapi juga menjaga lingkungan agar ombak ini selalu ada dan menjadi penjaga ombak di bibir Pasifik," tandas Cliff.

Morotai dan Tantangan Daerah 3T

Posisi Morotai yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik membuat kualitas ombaknya bersaing dengan destinasi kelas dunia. Tantangan bagi pemda dan ILMMA adalah memastikan geliat wisata selancar tidak menggerus ekosistem pesisir yang menjadi rumah ombak itu sendiri.

Kemah edisi ketiga ini melibatkan peserta dari kalangan masyarakat dan anak-anak di wilayah yang masuk kategori daerah 3T atau tertinggal, terdepan, dan terluar. Dukungan organisasi lokal dan internasional disebut semakin besar dari edisi ke edisi.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top