Syngenta Pamerkan Drone Pertanian dan Varietas NK Ningrat di Karawang

Penulis: Galih Prayoga  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:21:01 WIB
Petani mengamati demonstrasi drone aplikasi perlindungan tanaman pada Rice Innovation Day di fasilitas riset Syngenta Cikampek, Karawang.

MALUKU UTARA — Syngenta Indonesia memperkenalkan teknologi drone aplikasi perlindungan tanaman dan varietas padi NK Ningrat dalam Rice Innovation Day di fasilitas riset Cikampek, Karawang. Pengujian lapangan menunjukkan drone berpotensi mempercepat aplikasi hingga 30 kali, menghemat biaya perlakuan sampai 50 persen, dan menekan pemakaian air hingga 90 persen per hektare. Acara ini menjadi bagian dari Festival Padi Petani MAJU 2026 yang menyoroti percepatan transformasi pertanian padi nasional.

Fasilitas riset dan pengembangan Crop Protection Development (CPD) Syngenta di Cikampek, Karawang, berdiri sejak 1980 dan kini terhubung dengan jaringan riset global perusahaan serta berstatus Center of Excellence for Crop Protection Development untuk kawasan Asia, Middle East and Africa (AMEA). Kawasan riset ini menempati lahan sekitar 14,5 hektare, ditambah lima hektare lahan basah dan kering untuk pengujian.

Menghubungkan Riset Global dengan Kondisi Lahan Lokal

CPD Cikampek menangani penelitian dari tahap awal hingga pengujian lapangan sebelum teknologi disesuaikan dengan kondisi pertanian setempat. Fasilitas ini juga mendukung penelitian organisme pengganggu tanaman, termasuk isolasi fungi dan pemeliharaan serangga, yang temuan risetnya kemudian dihubungkan dengan kondisi lapangan.

Nanin Noorhajati, CPD Head Syngenta Indonesia, menegaskan bahwa proses inovasi tidak berhenti di laboratorium. "Kami ingin memastikan apa yang dikembangkan melalui penelitian dapat menjawab tantangan yang benar-benar dihadapi petani. Karena itu, proses inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi terus diuji dalam kondisi nyata di lapangan," ujarnya.

Drone Pertanian: Aplikasi Lebih Cepat, Biaya Lebih Hemat

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah drone untuk aplikasi perlindungan tanaman. Teknologi ini menyasar persoalan keterbatasan tenaga kerja di sektor budi daya padi. Berdasarkan pengujian dan pengalaman lapangan Syngenta Indonesia, penggunaan drone dalam kondisi tertentu berpotensi mempercepat aplikasi hingga 30 kali dibanding metode konvensional.

Efisiensi biaya perlakuan dapat mencapai 50 persen, sementara penggunaan air berkurang hingga 90 persen per hektare. Pengembangan teknologi ini disertai penyusunan standar operasional, pengembangan produk untuk aplikasi drone termasuk Ultra Low Volume (ULV), uji efikasi, serta edukasi dan pendampingan bagi pengguna.

Di Application Technology Laboratory, peserta melihat langsung bagaimana pemilihan nozzle, ukuran droplet, distribusi, dan pola semprotan memengaruhi efektivitas aplikasi. Keberhasilan teknologi pertanian tidak hanya bergantung pada produk atau perangkat, tetapi juga pada ketepatan penerapannya di lapangan.

NK Ningrat: Varietas untuk Lahan Tadah Hujan

Rice Innovation Day juga menjadi ajang perkenalan varietas padi NK Ningrat yang membawa karakter Bening, Berat, dan Tangguh. Bening merujuk pada kualitas dan penampilan beras, Berat menggambarkan potensi hasil panen yang tinggi, sedangkan Tangguh menunjukkan kemampuan tanaman menghadapi tantangan budi daya dan penyakit.

Varietas ini dirancang untuk menjawab kebutuhan petani, khususnya di lahan tadah hujan yang menghadapi tantangan produktivitas lebih tinggi. Peserta juga diajak mempelajari pendekatan perlindungan tanaman sejak tahap awal melalui Rice Growth Staging and Seedcare, yang menunjukkan bagaimana fase pertumbuhan dan perlindungan benih membantu tanaman menghadapi tekanan hama dan penyakit sejak awal.

Kolaborasi Jadi Kunci Swasembada Pangan

Eryanto, Presiden Direktur Syngenta Indonesia, menekankan bahwa swasembada pangan menuntut lebih dari sekadar peningkatan produksi. "Swasembada pangan tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan untuk terus meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan ketahanan petani menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, inovasi harus berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan dan dapat diterapkan oleh petani," ujarnya.

Dari sisi pemerintah, Ketua Tim Promosi Barang dan Jasa Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Seno Aribowo, menilai penguatan produktivitas pertanian perlu berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi dan hilirisasi. "Pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan kedaulatan bangsa. Di tengah ketidakpastian global dan tantangan iklim, penguatan produktivitas pertanian perlu berjalan bersama dengan pengembangan teknologi dan hilirisasi," katanya.

Rangkaian Festival Padi Petani MAJU 2026 menempatkan pendampingan dan kolaborasi antara pemerintah, peneliti, industri, penyuluh, dan petani sebagai bagian tak terpisahkan dari transformasi pertanian. Teknologi yang tepat sasaran dinilai menjadi kunci mendorong produktivitas di tingkat lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: agrofarm.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top