MALUKU UTARA — Angka itu baru dari Amerika Serikat. Di Indonesia, chatbot AI sudah menempel di mesin pencari, media sosial, sampai aplikasi belajar yang dipakai anak setiap hari. Artinya, pertanyaan bukan lagi "apakah anak akan pakai AI", tapi "kapan Bunda perlu mulai bicara soal ini".
Ying Xu, asisten profesor di Harvard University, menyarankan orang tua membuka percakapan soal AI sedini mungkin. Menurutnya, banyak anak sudah berinteraksi dengan AI dalam keseharian sejak kecil, meski tidak menggunakannya secara langsung.
Mereka bisa menemukan AI di rumah lewat smart speaker, dari teman, atau bahkan di sekolah. Momen ketika anak bertanya atau memperhatikan sesuatu yang berbau AI bisa jadi pintu masuk percakapan yang natural.
"Karena banyak anak sudah berinteraksi dengan AI dalam kehidupan sehari-hari saat masih kecil. Meskipun anak mungkin belum menggunakan alat AI secara langsung, mereka bisa menemukannya di rumah, dari teman, atau bahkan sekolah," ujar Ying Xu, dikutip dari UNICEF.
Memperkenalkan dasar-dasar teknologi sejak dini, kata Xu, membuat anak lebih nyaman dan percaya diri saat nanti berhadapan dengan berbagai alat AI.
Anak kecil lebih mudah paham kalau AI dijelaskan lewat benda yang sudah akrab di rumah. Robot penyedot debu, smart speaker, atau mainan robot sederhana bisa jadi contoh konkret.
Jelaskan bahwa perangkat itu mengikuti instruksi, mengenali pola, atau merespons suara. Tekankan juga bahwa alat tersebut tidak bisa berpikir atau merasakan emosi seperti manusia.
Cara lain: eksplorasi bersama. Saat anak punya pertanyaan, ketik ke chatbot bersama-sama, lalu diskusikan jawabannya. Dari situ Bunda bisa menunjukkan bahwa jawaban AI tetap perlu dicek ulang.
Xu menyoroti beberapa bahaya yang jarang disadari orang tua. Beberapa alat AI mengumpulkan informasi pribadi anak, membuka akses ke materi menyesatkan atau berbahaya, atau mendorong anak berbagi informasi di luar tahap perkembangannya.
Risiko lain muncul saat anak kesulitan membangun hubungan nyata. Anak bisa lebih memilih bertanya ke AI ketimbang meminta bantuan orang lain di sekitarnya.
Ada pula soal ekspektasi terhadap hubungan sosial. Hubungan nyata melibatkan perbedaan pendapat, kompromi, dan proses menyelesaikan konflik.
"Sementara itu kebanyakan sistem AI selalu bersikap setuju dan memberikan dorongan. Jika anak menghabiskan banyak waktu dengan sistem seperti ini, mereka dapat memiliki pemahaman yang tidak realistis tentang hubungan sosial seharusnya berjalan," pesan Xu.
Ada tiga pola yang perlu Bunda cermati. Pertama, durasi. Perhatikan apakah anak menghabiskan waktu sangat lama mengobrol dengan AI, atau marah ketika diminta berhenti.
Kedua, perubahan perilaku. Anak bisa jadi lebih tertutup dan mudah cemas. Waspadai juga jika ia selalu mengandalkan AI untuk dukungan emosional, bukan mencari orang yang dipercaya.
Ketiga, aktivitas lain mulai tergeser. Waktu tidur berkurang, tugas sekolah sepenuhnya dikerjakan AI, dan waktu bersosialisasi seperti berkumpul dengan teman atau menekuni hobi jadi tersingkir.
Kalau pola-pola itu muncul, jangan langsung mengkritik. Ajak anak berdiskusi dengan pertanyaan terbuka secara tenang.
Tanyakan apa yang ia sukai dari alat AI tersebut, dan apakah ada hal yang menurutnya kurang membantu. Cara ini membuka percakapan tanpa membuat anak merasa diserang.
Child Rescue Coalition juga menekankan pentingnya bicara dengan tenang sejak awal, sebelum kebiasaan berubah jadi masalah. Jangan tunggu sampai situasi memanas baru orang tua turun tangan.
Anak perlu memahami manfaat, risiko, dan alasan di balik setiap batasan penggunaan AI. Bukan sekadar aturan tanpa penjelasan.
Libatkan anak menyusun kesepakatan: kapan AI boleh dipakai, untuk keperluan apa, dan berapa lama. Sepakati juga bahwa urusan emosional tetap diselesaikan bersama orang tua, bukan dengan chatbot.
Yang tak kalah penting, Bunda perlu tahu aplikasi apa saja yang diakses anak. Fitur AI kini tersebar di banyak platform yang tampak biasa, jadi pengawasan tetap jadi kunci.
Mengawasi anak di era AI bukan soal melarang, tapi soal mendampingi. Semakin awal percakapan dibuka, semakin siap anak memakai teknologi ini tanpa kehilangan kemampuan bersosialisasi di dunia nyata.