MALUKU UTARA — Pada tahap pertama, pabrik ini memiliki kapasitas produksi 50.000 unit per tahun. Target kapasitas akan dinaikkan hingga 350.000 unit per tahun setelah ekspansi rampung, untuk memenuhi pasar domestik dan ekspor.
Model yang dirakit di Subang meliputi VF 3, VF 5, VF 6, VF 7, Limo Green, dan MPV 7. Pabrik dilengkapi area pengelasan, pengecatan, perakitan, pusat quality control, gudang logistik, hingga kawasan khusus pemasok (supplier park).
Saat beroperasi penuh, pabrik diperkirakan menyerap 5.000 hingga 15.000 tenaga kerja langsung, mulai dari operator, teknisi, quality control, logistik, hingga administrasi. Efek berganda juga dirasakan usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar kawasan industri, termasuk penyedia komponen lokal, jasa transportasi, dan keamanan.
Penggunaan komponen buatan lokal disebut menekan biaya produksi sekaligus memperkuat industri pendukung dalam negeri. Kehadiran ekosistem manufaktur ini mengubah posisi Indonesia dari sekadar pasar konsumen menjadi pusat produksi EV.
Investasi manufaktur ini beriringan dengan perbaikan indikator makroekonomi Jawa Barat. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) provinsi itu turun bertahap ke 6,64% pada Februari 2026. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mencapai 5,79% secara tahunan pada triwulan I-2026, di atas rata-rata nasional yang sebesar 5,61%.
Dengan beroperasinya pabrik VinFast, Subang diproyeksikan menjadi salah satu klaster industri EV terbesar di Asia Tenggara. Rencana ekspansi tahap kedua yang menargetkan kapasitas 350.000 unit per tahun akan semakin memperkuat posisi Indonesia di peta manufaktur kendaraan listrik global.