TERNATE — Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Hiri, Kota Ternate, Maluku Utara. Pulau kecil yang berada di sebelah utara Pulau Ternate ini menyuguhkan panorama Gunung Gamalama yang tampak jelas dari bibir pantainya.
"Pulau yang indah, dari sini bisa melihat keagungan Gunung Gamalama," ujarnya saat menghadiri pesta adat masyarakat setempat, baru-baru ini.
Kedatangan Viva Yoga ke Pulau Hiri bukan tanpa tujuan. Ia diundang untuk menyaksikan pesta adat yang menampilkan Tari Salai Jin, sebuah tarian sakral warisan Kesultanan Ternate yang hanya digelar sekali dalam empat tahun.
Selain Tari Salai Jin, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan bambu gila, kesenian khas yang dikenal luas di Maluku dan Maluku Utara. Pertunjukan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang hadir.
Dalam sambutannya, Viva Yoga menegaskan bahwa adat dan budaya memiliki peran fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, adat dan budaya menjadi pola dalam mengatur hubungan antarsesama manusia, masyarakat, dan alam semesta.
Ia menyebut ragam adat dan budaya seperti tradisi, ritual, kuliner, bahasa, dan seni merupakan kekayaan yang luar biasa. Kekayaan tersebut, lanjutnya, menjadi khazanah nasional yang tumbuh dari Sabang sampai Merauke.
Viva Yoga menyoroti sejarah panjang Kesultanan Ternate yang berdiri pada tahun 1251, sezaman dengan Kerajaan Majapahit. Hingga kini, kesultanan tersebut dinilai tetap konsisten menjaga tradisi, budaya, adat, bahasa, kuliner, dan nilai sosialnya.
Indonesia sendiri memiliki 17.503 pulau dengan ribuan bahasa, suku, dan beragam agama. Meski beragam, seluruh elemen bangsa berkomitmen untuk tetap bersatu dalam satu negara.
"Satu bangsa, satu negara, bernama Indonesia," tegasnya.
Para raja dan sultan, termasuk dari Kesultanan Ternate, disebutnya telah berkomitmen menjadi bagian dari satu Indonesia. Viva Yoga pun mendorong agar kekayaan Kesultanan Ternate dijaga dan dimodifikasi secara digital agar lestari hingga menjadi catatan dunia.