MALUKU UTARA — Kesepakatan itu diteken di Jakarta, Jumat (14/8), dan disaksikan langsung Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Harga yang disepakati kedua negara berada di angka Rp17.000 per kilogram atau setara 3,9 ringgit Malaysia untuk beras premium dengan tingkat pecah 5 persen.
Amran menyebut langkah ini menjadi titik balik ketahanan pangan nasional. "Dulu kita selalu berbicara tentang bagaimana memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Hari ini, ketika stok kita kuat mencapai sekitar 5,2 juta ton, kita mulai berbicara tentang ekspor. Ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin kuat dan semakin percaya diri," ujarnya di Jakarta, Sabtu (15/8).
Keputusan membuka keran ekspor tidak lepas dari posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog. Dengan stok mencapai 5,2 juta ton, pemerintah menilai kebutuhan domestik telah aman sehingga ada ruang untuk ekspansi pasar komersial ke luar negeri.
Amran menegaskan prioritas pangan rakyat tetap menjadi acuan utama. "Ekspor bukan berarti kita mengurangi perhatian terhadap kebutuhan rakyat. Justru ekspor dilakukan karena kondisi kita sudah aman. Prioritas utama tetap kebutuhan dalam negeri," katanya.
Kesepakatan ini juga menjadi catatan tersendiri karena berlangsung menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Amran menyebutnya sebagai persembahan bagi petani dan pengelolaan pangan nasional yang semakin kuat.
MoU ini tidak hanya menyasar pasar Serawak. Amran mengungkapkan kebutuhan beras untuk seluruh Malaysia mencapai 1,5 hingga 1,7 juta ton per tahun. "Kalau ekspor ini kalau bisa minggu ini diberangkatkan 1.000 ton secara bertahap karena kebutuhan Serawak 200.000 ton," terangnya.
Pengiriman bertahap ini akan menjadi uji pasar bagi beras premium Indonesia di Malaysia. Keberhasilan pengiriman awal akan menentukan volume ekspor berikutnya dalam memenuhi kuota yang telah disepakati.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut kerja sama ini sebagai momentum penting bagi perusahaan dalam memperkuat peran komersial sekaligus memperluas pasar beras premium Indonesia. "Menjelang 81 tahun kemerdekaan, kita menunjukkan bahwa dengan kerja keras petani, dukungan pemerintah, dan pengelolaan pangan yang baik, Indonesia memiliki kekuatan stok yang memungkinkan kita untuk mulai menembus pasar internasional," ujarnya.
Rizal menegaskan ekspor tidak akan mengganggu tugas pokok Bulog menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan nasional. "Prioritas Bulog tetap menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, ketika stok kuat dan kebutuhan dalam negeri aman, kita memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnis komersial, termasuk ekspor beras premium," katanya.
Kesepakatan ini merupakan hasil komunikasi langsung antara pemerintah Indonesia dan Menteri Pertanian serta Keterjaminan Makanan Malaysia Datuk Seri Mohamad Sabu. Kerja sama ini menjadi sinyal bahwa Indonesia mulai diperhitungkan sebagai pemasok beras premium di pasar Asia Tenggara.