MALUKU UTARA — Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. telah mengunjungi langsung Kota General Santos untuk memastikan respons cepat terhadap bencana. Ia menginstruksikan pencairan dana darurat sebesar 100 juta peso, setara dengan sekitar USD 1,6 juta, yang dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur publik yang rusak.
Dalam pernyataan resminya, Marcos juga menjanjikan santunan sebesar 50.000 peso bagi setiap keluarga yang kehilangan anggota keluarganya akibat gempa dan tsunami susulan.
Di Provinsi Sarangani, yang menjadi wilayah terdampak paling parah, sejumlah desa di kota pesisir Glan masih sepenuhnya terputus akses daratnya akibat tanah longsor besar. Pemerintah provinsi telah mengeluarkan permohonan mendesak untuk tambahan helikopter guna mengangkut pasokan makanan dan air bersih ke lokasi-lokasi tersebut.
Hingga saat ini, sekitar setengah dari total 45.000 pengungsi masih bertahan di kamp-kamp darurat. Sebanyak 3.400 personel gabungan dari militer dan sipil, bersama dengan ratusan kendaraan berat, dikerahkan siaga penuh selama 24 jam untuk mempercepat proses pencarian dan penyelamatan.
Gempa yang terjadi pada 8 Juni lalu ini tercatat sebagai salah satu gempa terkuat yang melanda Filipina dalam 50 tahun terakhir. Guncangan hebat tidak hanya merobohkan puluhan bangunan dan memicu tanah longsor masif, tetapi juga memaksa otoritas setempat mengeluarkan peringatan tsunami di seluruh wilayah pesisir Mindanao.
Menurut laporan dari PhilStar, tim penyelamat masih terus berupaya menjangkau titik-titik yang sulit diakses. Hujan deras yang mengguyur sejak hari pertama pascagempa memperlambat pergerakan alat berat dan meningkatkan risiko longsor susulan di area yang sudah rapuh.
Pemerintah pusat di Manila terus mengirimkan bantuan tambahan, namun tantangan terbesar saat ini adalah medan yang ekstrem dan cuaca buruk. Jalan utama menuju beberapa distrik di Sarangani terputus total, sehingga jalur udara menjadi satu-satunya opsi untuk memasok kebutuhan dasar bagi warga yang terjebak.
Kondisi darurat ini memaksa pemerintah provinsi untuk memprioritaskan evakuasi warga yang berada di zona rawan longsor susulan. Otoritas setempat mengimbau warga yang masih bertahan di rumahnya untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Data korban dan kerusakan diperkirakan masih akan bertambah seiring meluasnya akses tim penyelamat ke daerah-daerah terisolasi di pesisir selatan Filipina.