Cadangan Nikel RI 62 Juta Ton, Maluku Utara Jadi Pusat Hilirisasi Global 2026 dengan Pertumbuhan Ekonomi 34 Persen

Penulis: Indra Firmansyah  •  Minggu, 07 Juni 2026 | 12:14:31 WIB
Maluku Utara menjadi pusat hilirisasi nikel global dengan pertumbuhan ekonomi 34 persen pada 2026.

SOFIFI — Maluku Utara kini tidak lagi sekadar pemasok bahan mentah. Provinsi yang menyimpan sekitar 90 persen cadangan nikel nasional ini telah bertransformasi menjadi pusat hilirisasi yang diakui secara global. Langkah strategis itu ditegaskan lewat forum North Maluku Sustainability Trip yang mempertemukan pemangku kepentingan internasional, mulai dari organisasi global hingga pembuat kebijakan, untuk meninjau langsung ekosistem hilirisasi mineral di daerah tersebut.

Cadangan Nikel Indonesia: 62 Juta Ton atau 44,3 Persen Pasokan Dunia

Berdasarkan laporan U.S. Geological Survey (USGS) tahun 2026, Indonesia menguasai cadangan nikel terbesar di dunia, yakni 62 juta ton. Angka itu setara 44,3 persen dari total cadangan global. Sebagian besar sumber daya itu tersebar di empat wilayah utama: Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Dari total tersebut, Maluku Utara diperkirakan menyimpan porsi signifikan. Kawasan industri Weda Bay Industrial Park (IWIP) menjadi pusat pengolahan yang menyedot investasi dan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Pertumbuhan Ekonomi 34 Persen: Rekor Tertinggi Nasional

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengungkapkan bahwa ekonomi daerahnya tumbuh 34 persen secara tahunan pada tahun lalu. Angka itu merupakan rekor tertinggi di Indonesia. Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan masih bertahan di angka 19,64 persen.

“Industri hilirisasi nikel merupakan kontributor utama di balik pencapaian ini. Proses hilirisasi telah menciptakan nilai tambah yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat daerah,” kata Sherly dalam forum tersebut.

Standar ESG Jadi Prioritas di Tengah Tekanan Pasar Global

Forum North Maluku Sustainability Trip tidak hanya membahas keuntungan ekonomi. Diskusi juga menyoroti penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengelolaan mineral kritis. Pasar global kini semakin menuntut rantai pasok yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Acara yang didukung penuh oleh IWIP ini menjadi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk menyepakati praktik hilirisasi yang ramah lingkungan. Maluku Utara, menurut para peserta forum, bisa menjadi acuan global untuk hilirisasi nikel yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: inikata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top