TERNATE — Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Organisasi Pangan Dunia (FAO) akan memulai proyek konservasi tanaman rempah asli daerah, khususnya cengkih dan pala, pada 2026. Program bertajuk Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) ini hanya menjangkau tiga provinsi di Indonesia, dan Maluku Utara menjadi salah satunya.
Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin A. Kadir, mengaku bangga daerahnya terpilih dalam proyek berskala internasional tersebut. Ia menyebut keterlibatan FAO menjadi bukti dunia internasional ikut menjaga kekayaan alam Indonesia.
“Ini patut kita syukuri karena hanya ada tiga provinsi yang masuk dalam kegiatan ini, yakni Jawa Tengah, Kalimantan Tengah dan Maluku Utara. Jika Organisasi Pangan Dunia atau FAO sudah terlibat, artinya dunia internasional ikut menjaga kelestarian kekayaan alam kita,” kata Samsuddin di Ternate, Kamis.
Proyek CDCSUI tidak hanya soal konservasi. Samsuddin menegaskan program ini bertujuan menegaskan sejarah dan keaslian komoditas rempah legendaris seperti cengkih dan pala sebagai tanaman asli bumi Moloku Kie Raha. Ia menyebut varietas Zanzibar yang populer saat ini sejatinya berasal dari Maluku Utara.
“Melalui proyek ini kita ingin menjaga keaslian bahwa cengkih dan pala memang berasal dari Maluku Utara. Walaupun saat ini yang terkenal adalah varietas Zanzibar, hasil penelitian menunjukkan asal-usulnya sejatinya dari Maluku Utara,” ujarnya.
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementan, Atekan, menjelaskan secara nasional proyek ini menyasar lima komoditas utama: padi lokal, talas, uwi, cengkih, dan pala. Namun untuk Maluku Utara, fokus utama diarahkan pada cengkih dan pala.
“Kita semua tahu Maluku Utara merupakan sumber daya genetik yang luar biasa bagi kedua komoditas tersebut. Karena itu sudah sepatutnya kita angkat bersama,” kata Atekan.
Pelaksanaan proyek yang direncanakan berjalan hingga 2027 dan berpeluang diperpanjang sampai 2028 itu akan dipusatkan di Kota Tidore Kepulauan dan Kabupaten Halmahera Selatan.
Program ini tidak berhenti pada perlindungan sumber daya genetik. BRMP Biogen Kementan juga akan membina dan mendampingi petani di lapangan. Targetnya, produktivitas naik dan kesejahteraan petani rempah di Maluku Utara meningkat.
“Kami akan mendampingi petani bagaimana menjaga kelestarian cengkih dan pala sekaligus memberikan nilai tambah agar pendapatan mereka meningkat. Target akhirnya, rempah Maluku Utara dapat dikenal luas di tingkat global dengan identitas dan kualitas unggulnya,” ujar Atekan.
Saat ini, BRMP Biogen terus membangun sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota untuk memastikan implementasi proyek CDCSUI berjalan optimal dan berkelanjutan mulai 2026.