SOFIFI — Kegiatan zikir dan doa pelajar Muslim di Alun-Alun Tavamu berlangsung bersamaan dengan Christian Youth Camp yang diikuti pelajar Kristen di aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara. Dua agenda keagamaan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara. Abubakar menilai pelaksanaan bersamaan tersebut sebagai praktik baik pendidikan kebinekaan di lingkungan sekolah.
Agenda zikir di Alun-Alun Tavamu dirangkaikan dengan ceramah Ustaz Das'ad Latif. Sementara Christian Youth Camp mengusung tema "Membentuk Generasi Muda yang Unggul dalam Iman, Ilmu, dan Karakter". Peserta didik dari kedua kegiatan itu disebut memperoleh ruang memperkuat iman sekaligus menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman.
Pendidikan Karakter Tidak Cukup dari Ruang Kelas
Abubakar menilai pendidikan karakter tidak bisa diselesaikan hanya melalui pembelajaran formal di ruang kelas. Menurut dia, kegiatan yang menanamkan nilai spiritual, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu memperkuat proses itu.
"Ini wujud toleransi dan edukasi positif bagi dunia pendidikan. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter peserta didik sekaligus meningkatkan indeks kebinekaan di lingkungan sekolah," ujar Abubakar.
Ia menyebut keberagaman bukan sekadar kenyataan yang dijumpai di lingkungan pendidikan. Nilai itu, kata dia, harus dirawat melalui praktik sehari-hari, dan sekolah perlu menjadi ruang aman serta inklusif bagi seluruh peserta didik untuk tumbuh sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
Zikir dan Puji-Pujian Bawa Pesan yang Sama
Pelaksanaan dua kegiatan keagamaan secara bersamaan dalam rangkaian HUT Maluku Utara dinilai Abubakar menunjukkan penguatan iman dan semangat kebinekaan dapat berjalan beriringan. Ia menyoroti lantunan zikir di Alun-Alun Tavamu dan puji-pujian pelajar Kristen di kantor Dikbud sebagai satu kesatuan pesan.
"Malam ini ada praktik baik yang luar biasa. Di Alun-Alun Tavamu, lantunan zikir dan doa menggema, sementara di Kantor Dikbud, puji-pujian kepada Tuhan dilantunkan para pelajar Kristen. Semuanya membawa pesan yang sama, yakni kebaikan, kedamaian, dan harapan," katanya.
Pengalaman itu dinilai Abubakar menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki landasan keimanan. Karakter dan kepedulian terhadap sesama, menurut dia, sama pentingnya untuk dibangun sejak dini.
Harapan agar Pembinaan Rohani Tidak Berhenti Seremonial
Di lingkungan sekolah, nilai toleransi perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati. Termasuk menghargai teman yang berbeda agama, memberikan ruang bagi setiap keyakinan, serta menjaga persatuan dalam kehidupan bersama.
Abubakar berharap pembinaan rohani tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam peringatan hari jadi provinsi. Nilai yang diperoleh peserta didik diharapkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
"Semoga keberkahan dan keselamatan senantiasa dilimpahkan untuk Indonesia dan Maluku Utara. Inilah pendidikan kebinekaan yang harus terus kita hidupkan sejak dini," ujarnya.
Ia menegaskan pembangunan Maluku Utara tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan kemajuan ekonomi. Pembentukan karakter generasi muda yang beriman, berilmu, dan mampu menghargai perbedaan disebutnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses itu.
Melalui pendidikan yang menjunjung tinggi toleransi, generasi muda di Maluku Utara diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepedulian sosial. Dua kegiatan keagamaan dalam rangkaian HUT ke-27 provinsi itu menjadi pengingat bahwa perbedaan cara beribadah tidak menghalangi tumbuhnya pesan bersama tentang kebaikan, kedamaian, dan harapan bagi masa depan daerah.