MALUKU UTARA — Target transaksi tersebut disampaikan Project Manager IFRA, Mega Khorani, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/8). Ia optimistis angka itu tercapai mengingat animo pelaku usaha terhadap sektor waralaba yang terus tumbuh di tengah dinamika ekonomi nasional. "IFRA dilaksanakan secara luring selama tiga hari, kami menargetkan Rp 3,5 miliar untuk kesepakatan bisnisnya," ujarnya.
Untuk menjaring lebih banyak calon mitra, panitia tidak hanya mengandalkan interaksi fisik di Hall 7 ICE BSD. Mereka menyediakan platform digital di laman resmi IFRA yang aktif 24 jam sejak Agustus hingga Desember 2026. Melalui kanal ini, pengunjung bisa mengakses profil lengkap, kontak, hingga langsung bernegosiasi dengan pemilik merek tanpa harus menunggu jadwal pameran.
Etika Jadi Kunci Utama Industri Waralaba
Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, menjelaskan tema tahun ini adalah "The Empowering of Growth: Ethical Franchising". Menurutnya, standarisasi usaha yang aman, legal, dan transparan menjadi kebutuhan mendesak agar ekosistem waralaba di Indonesia sehat dan berkelanjutan. "Tahun ini kami menargetkan lebih dari 30.000 pengunjung secara hybrid, baik yang datang ke ICE BSD maupun yang online. Acara ini dimeriahkan oleh 250 merek yang siap untuk tampil," kata Daswar dalam kesempatan yang sama.
Ia menambahkan, model bisnis waralaba masih relevan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pemerataan usaha. Perusahaan akan fokus pada promosi dan pengembangan industri perdagangan dalam negeri melalui ajang tahunan ini.
Mengapa Pasar Waralaba Masih Menarik?
Bagi calon investor atau pelaku UMKM yang ingin berekspansi, pameran ini menjadi pintu masuk untuk membandingkan skema kemitraan dari berbagai sektor—mulai F&B, ritel, hingga jasa. Kehadiran platform daring juga memangkas biaya riset, karena calon mitra bisa melakukan due diligence awal sebelum bertemu langsung di lokasi.
Keputusan Dyandra mempertahankan IFRA sebagai ajang fisik sekaligus digital mencerminkan adaptasi industri terhadap kebiasaan baru pasca-pandemi. Meski transaksi daring meningkat, pertemuan tatap muka tetap dianggap krusial untuk membangun kepercayaan antara franchisor dan franchisee.
Dengan target 30.000 pengunjung dan 250 exhibitor, IFRA 2026 optimistis menjadi barometer pertumbuhan sektor waralaba nasional. Apalagi, tren masyarakat yang semakin sadar merek dan mencari peluang pendapatan pasif membuat industri ini terus relevan di tengah tekanan ekonomi global.