MALUKU UTARA — Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai alat meredam ego. Menurut dia, konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, berakar dari ego yang tidak terkendali.
"Kalau kita berhasil menjinakkan ego kita, bukan saja persoalan pribadi dan keluarga yang selesai, tetapi juga persoalan kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan, bahkan dunia," ujar Nasaruddin di hadapan ribuan umat yang memadati vihara di kawasan Duri Kepa, Jakarta Barat.
Rangkaian Prosesi dan Makna Waisak Lebih dari Sekadar Ritual
Perayaan diawali dengan prosesi pindapata—praktik menerima dana makanan dari umat—dan puja bakti Waisak. Bhante Nyana Gupta, tokoh Sangha Agung Indonesia, menegaskan bahwa Waisak bukan seremoni tahunan belaka, melainkan momentum menghadirkan ajaran Buddha dalam keseharian.
"Kita menekankan pentingnya cinta kasih sebagai salah satu aspek praktik umat Buddha yang dapat membawa perdamaian. Kehadiran Buddha hendaknya juga hadir dalam diri setiap orang," kata Bhante Nyana Gupta.
Tema "Menebar Cinta" dan Kegiatan Sepanjang Sebulan
Mengusung tema "Menebar Cinta, Menumbuhkan Perdamaian Dunia" dengan subtema "Waisak Ingatkan Kita Cara Melepas Ego", rangkaian kegiatan berlangsung hampir satu bulan. Tidak hanya ibadah, panitia menggelar aksi sosial berbagi kepada masyarakat, pendalaman Dharma, dan kegiatan khusus bagi generasi muda.
"Kita terinspirasi oleh teman-teman Muslim, kita juga mempraktikkannya dalam satu bulan. Dan kegiatan-kegiatan lain sebagai pendalaman Dharma, kegiatan anak muda, dan nanti akan ditutup khusus dengan Waisak untuk remaja," tutup Bhante Nyana Gupta.
Menteri Agama menambahkan, harmoni antaragama di Indonesia harus terus dirawat dengan saling menghormati. Ajaran cinta kasih dari berbagai tradisi, menurutnya, adalah modal sosial yang bisa menekan polarisasi di tengah masyarakat.