MALUKU UTARA — James May menyatakan dirinya bisa menjadi pembeli Slate, truk pikap listrik mini asal Amerika Serikat yang dibanderol sekitar 25.000 dolar AS. Mantan pembawa acara Top Gear itu mengaku terkesan setelah mencoba langsung kendaraan bergaya kembali ke dasar tersebut. Pengakuan May muncul di tengah harga kendaraan listrik yang kian mahal.
Pengakuan tersebut disampaikan May dalam sebuah video yang mengulas pengalaman mengemudikan Slate. Ia dikenal sebagai sosok yang hampir mencoba semua jenis kendaraan di dunia, sehingga penilaiannya soal truk pikap mungil ini punya bobot tersendiri. Ketika mempertimbangkan apakah akan membeli satu unit, jawaban May lugas.
"You know what, I think I would—I'd have one," ujar May seperti dikutip dari video tersebut.
Slate bukan pikap konvensional. Kabinnya ringkas dengan dua tempat duduk, bak kargo berukuran kecil, dan penggerak listrik murni lewat satu motor yang dipasang di belakang. Pabrikan memperkirakan jarak tempuh sekitar 150 mil per pengisian daya.
Baterai berkapasitas lebih besar tersedia sebagai opsi dan diklaim bisa mendorong jangkauan hingga sekitar 240 mil. Angka-angka itu menempatkan Slate di segmen yang berbeda dari pikap listrik besar yang beredar saat ini.
Interior Slate sengaja dibuat minim. Jendela masih diputar manual, kontrol berupa tombol fisik, dan dasbor tampil polos tanpa layar infotainment standar. Sebagai gantinya, pabrikan menyediakan dudukan ponsel sederhana agar pengemudi memakai perangkat sendiri untuk navigasi dan hiburan.
Pendekatan itu sejalan dengan strategi harga Slate. Dengan banderol sekitar 25.000 dolar AS, pabrikan bertaruh bahwa pembeli akan menerima kesederhanaan sebagai kompromi yang wajar, terutama ketika harga kendaraan baru terus melambung.
Apakah pendekatan minimalis dan harga relatif terjangkau cukup membuat Slate sukses masih belum terjawab. Namun reaksi May memberi sinyal bahwa truk ini menemukan ceruk pembaca sendiri.
Setidaknya untuk satu jenis pembeli yang tidak menuntut layar besar atau fitur berlimpah, Slate berpeluang masuk daftar pertimbangan. Bagi pasar Indonesia, model seperti ini belum tentu relevan dalam waktu dekat, tetapi arah industri listrik global patut dicermati.