Cara Menegur Anak Tanpa Kekerasan: 6 Langkah yang Bisa Ibu Coba

Penulis: Kemal Batubara  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 13:50:32 WIB
Video kekerasan terhadap anak dalam lift memicu keprihatinan publik soal perlindungan anak.

MALUKU UTARA — Video orang tua mengasari anak di dalam lift ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu keprihatinan soal perlindungan anak. Membentak atau mempermalukan anak bukan cara mendisiplinkan yang efektif, menurut American Academy of Pediatrics. Berikut enam cara menegur anak tanpa kekerasan yang bisa diterapkan saat anak berulah di tempat umum.

Rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang ibu menggoyang stroller dengan keras, lalu seorang laki-laki dewasa menendangnya, tersebar luas di media sosial. Media Malaysia The Reporter memberitakannya pada 21 Oktober 2026. Di Indonesia, netizen sempat menduga asal orang tua dalam video, tetapi identitas dan latar belakang mereka belum terverifikasi.

Terlepas dari siapa orang tua itu, ada pertanyaan yang layak dibahas: apa dampaknya bagi anak ketika orang yang seharusnya jadi tempat paling aman justru membentak dan menyakitinya? Mengasuh anak memang tidak mudah, apalagi saat anak tantrum di tempat umum. Marah itu manusiawi, tapi menyakiti bukan cara mendisiplinkan.

Apa Dampak Membentak dan Memperlakukan Anak dengan Kasar

Membentak anak berulang kali, mempermalukannya, atau memakai kekerasan fisik dapat meningkatkan risiko masalah emosi dan perilaku. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut hukuman fisik, bentakan, dan mempermalukan anak tidak efektif membangun perilaku baik dalam jangka panjang. Dampaknya berbeda pada tiap anak, tergantung pengalaman, tingkat keparahan, dan dukungan yang diterima.

1. Anak Kehilangan Rasa Aman

Rumah yang seharusnya jadi tempat aman bisa terasa menakutkan bila anak berulang kali dibentak, dihina, atau diancam. Sebagian anak jadi lebih mudah cemas, menarik diri, atau takut berbuat salah. Pengalaman itu juga memengaruhi kepercayaan diri dan cara anak memandang dirinya.

2. Berisiko Mengalami Masalah Kesehatan Mental

Penelitian yang dirangkum AAP mengaitkan disiplin verbal keras dengan peningkatan gejala depresi dan masalah perilaku pada remaja. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan stres intens, berulang, dan berkepanjangan tanpa dukungan orang dewasa dapat memengaruhi perkembangan otak dan kesehatan jangka panjang. Tapi bukan berarti setiap anak yang pernah dibentak pasti trauma—frekuensi, keparahan, usia, dan dukungan yang diterima ikut menentukan.

3. Anak Berisiko Meniru Perilaku Agresif

Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari, bukan hanya dari nasihat. Jika orang tua terbiasa memakai bentakan atau pukulan untuk menyelesaikan masalah, anak bisa menganggap agresi sebagai cara wajar menghadapi konflik. Pola ini berisiko membuat anak berperilaku agresif terhadap teman atau membawa komunikasi tidak sehat ke hubungan saat dewasa. Lingkungan suportif dan bantuan profesional bisa memutus pola tersebut.

4. Bangun Komunikasi Sebelum Menegur

Saat anak berulah di mal, restoran, atau lift, orang tua tidak perlu membiarkannya. Anak tetap butuh batasan dan disiplin. Bedanya, disiplin bertujuan mengajarkan perilaku tepat, bukan membuat anak takut. Turunkan dulu nada suara, jongkok sejajar mata anak, lalu sebutkan perilaku yang salah secara spesifik tanpa melabeli anaknya.

5. Beri Konsekuensi yang Mendidik, Bukan yang Menyakiti

Ganti hukuman fisik dengan konsekuensi logis, misalnya menghentikan waktu bermain sebentar atau meminta anak membereskan apa yang ia buat berantakan. Konsekuensi seperti ini memberi pelajaran tanpa rasa sakit. Jelaskan alasannya dengan kalimat pendek yang bisa dipahami sesuai usia anak.

6. Tenangkan Diri Dulu Sebelum Menegur

Emosi orang tua menular ke anak. Jika dada sudah terasa sesak dan tangan mulai mengepal, ambil jeda beberapa detik, tarik napas, lalu bicara. Bila perlu, minta pasangan mengambil alih sementara. Menegur saat kepala dingin jauh lebih efektif daripada melampiaskan kemarahan di depan orang banyak.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional

Jika ibu atau pasangan merasa sering kehilangan kendali, mudah membentak, atau sampai menyakiti anak, itu tanda perlu bantuan. Konsultasi ke psikolog anak atau konselor keluarga bukan hal memalukan. Dukungan profesional membantu memutus pola disiplin yang menyakiti dan membangun hubungan yang lebih aman bagi anak.

Menegur anak tanpa kekerasan bukan berarti membiarkannya berbuat salah. Justru ini cara mengajarkan batasan sambil menjaga rasa aman anak. Mulai dari satu langkah kecil hari ini—menurunkan nada suara saat kesal—sudah cukup untuk mengubah pola.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: mommiesdaily.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top