MALUKU UTARA — Prevalensi stunting di Kota Tangerang Selatan naik dari 9 persen pada 2022 menjadi 10,5 persen pada 2024. Untuk memperluas pendampingan gizi keluarga, Pos Gizi Gemintang di Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, resmi diresmikan Selasa (20/10) sebagai pos gizi kedua di wilayah itu.
Peresmian Pos Gizi Gemintang menambah fasilitas pelayanan gizi di Kelurahan Pondok Pucung menjadi dua lokasi. Fasilitas baru ini memperluas jangkauan pendampingan pemenuhan gizi anak sekaligus edukasi pola asuh bagi orang tua di tingkat kelurahan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Syahlan King Syahnan Siregar, menegaskan masa balita adalah periode yang menentukan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta kemampuan dasar anak. Pemenuhan gizi karena itu perlu berjalan seiring pola asuh tepat dan pemantauan tumbuh kembang berkala.
Data yang disampaikan dalam kegiatan peresmian mencatat prevalensi stunting Kota Tangsel sebesar 9 persen pada 2022. Angka itu naik menjadi 9,2 persen pada 2023, lalu 10,5 persen pada 2024.
Kenaikan tersebut menjadi pengingat bahwa intervensi perbaikan gizi perlu terus diperkuat. Pendekatannya pun harus semakin dekat dengan keluarga agar persoalan gizi di tingkat masyarakat bisa dijawab langsung.
King menjelaskan pos gizi berfungsi lebih luas dari pemberian makanan tambahan. Fasilitas ini menjadi ruang belajar, ruang pendampingan, dan ruang kolaborasi bagi keluarga.
Anak-anak yang mengikuti kegiatan mendapat makanan dengan prinsip gizi seimbang dan sumber protein cukup. Berat badan, tinggi badan, kondisi kesehatan, serta stimulasi tumbuh kembang juga dipantau secara rutin.
Sementara orang tua memperoleh edukasi soal pemilihan bahan makanan, teknik pengolahan, porsi, hingga tekstur makanan sesuai usia anak. Pendampingan itu diharapkan membantu keluarga menerapkan pola pemberian makan yang tepat di rumah.
Pemkot Tangsel menargetkan pengembangan pos gizi hingga 108 lokasi pada 2029. Perluasan ini bagian dari upaya menjangkau lebih banyak masyarakat dengan layanan dan intervensi gizi.
King menegaskan keberhasilan program tidak cukup diukur dari pelaksanaan kegiatan di pos gizi. Perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi dan menerapkan pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak juga menjadi faktor penentu.
Camat Pondok Aren, Hendra, menyebut pelaksanaan program pemerintah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar manfaat program dirasakan langsung oleh warga.
"Dalam melaksanakan program-program pemerintah, ini adalah kerja bersama. Ibu-ibu harus mendukung, masyarakat juga harus mendukung dan membantu kita bekerja sama. Memang harus ada kolaborasi dari semuanya supaya kebermanfaatan ini benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.
Hendra juga menekankan pentingnya koordinasi antara pihak kecamatan, kelurahan, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ketua RT dan RW, serta pemangku kepentingan lain. Komunikasi yang baik diperlukan agar persoalan di lapangan bisa ditangani bersama.
Lurah Pondok Pucung, Murdih, menyampaikan peresmian Pos Gizi Gemintang menambah fasilitas pelayanan gizi menjadi dua lokasi di wilayahnya. Sinergi antara kelurahan, puskesmas, dan lingkungan masyarakat diharapkan semakin kuat lewat penambahan pos gizi ini.
Pemantauan berat dan tinggi badan anak sebaiknya dilakukan rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat. Bila pertumbuhan anak tidak sesuai usia atau muncul tanda kurang gizi, segera konsultasikan ke puskesmas agar penanganan tidak terlambat.
Peresmian Pos Gizi Gemintang dihadiri jajaran Pemkot Tangsel, perwakilan Dinkes, Camat Pondok Aren, kepala puskesmas, ketua PKK, serta kader kesehatan setempat. Kehadiran pos gizi kedua di Pondok Pucung memperbesar peluang edukasi gizi dan pendampingan keluarga menjangkau lebih banyak anak di wilayah tersebut.