Nelayan Morotai Bertahan 21 Hari di Samudera Pasifik, Diselamatkan Kapal Berbendera Panama

Penulis: Indra Firmansyah  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 13:46:01 WIB
Nelayan Morotai, Foni, berhasil dievakuasi kapal berbendera Panama setelah 21 hari terombang-ambing di Samudera Pasifik.

MOROTAI — Foni berangkat dari daratan Morotai sekitar pukul 03.00 WIT menuju rumpon untuk memancing tuna. Sore harinya, sekitar pukul 16.00 WIT, ia sudah mengantongi 11 ekor tuna berbobot 30 hingga 40 kilogram. Tangkapan itu tersusun rapi di perahu fiber bermesin dua unit.

Nasib berbalik setengah jam kemudian. Di perairan depan Pulau Tabailenge, Kecamatan Morotai Utara—sekitar 5 sampai 10 mil dari daratan—cuaca berubah mendadak. Ombak bergulung keras dan kabut tebal menutup pandangan.

Kabut Menelan Daratan, Mesin Dimatikan

Foni sempat mematikan mesin dan menunggu malam, berharap melihat cahaya lampu daratan. Harapan itu kandas. Hingga pukul 20.00 WIT, tidak satu pun titik cahaya tampak.

"Waktu itu mesin tidak mati, tapi begitu saya mendekati daratan tiba-tiba cuaca kabut. Saya sudah tidak lihat daratan lagi. Saya kase mati mesin sambil tunggu-tunggu malam, berharap bisa lihat cahaya lampu. Tapi begitu jam 8 malam cahaya lampu tidak kelihatan satu pun sama sekali, dan saya kase mati mesin sementara," kenang Foni saat dihubungi tandaseru.com, Minggu (18/10/2026).

Ia menyisir laut mencari tanda kehidupan hingga pukul 02.00 WIT. Haluan perahu justru kian terseret menjauh. BBM ludes, dan Foni sadar dirinya telah hanyut sepenuhnya ke lautan bebas.

11 Tuna Dibuang demi Ringankan Perahu

Memasuki hari ketiga, Foni mendengar deru mesin perahu dari jarak sekitar 25 mil. Ia menyalakan senter, memberi kode, dan berteriak. Jeritan itu tersapu angin laut.

Ombak Pasifik membuat perahu kian berat dan membahayakan. Foni mengambil keputusan pahit: membuang seluruh hasil tangkapannya dengan batu rumpon.

"Mungkin mereka tidak lihat saya, karena saya sudah hanyut jauh. Ikan 11 ekor dari hasil tangkapan saya untuk keluarga sudah menunggu di daratan, terpaksa saya buang dengan batu rumpon untuk mengurangi berat. Karena ikan tuna yang saya dapat dari ukuran 30 sampai 40 kilo terlalu berat menambah beban berat perahu," ungkap Foni dengan nada lirih.

Dengan sebatang tongkat kayu dan selembar terpal, ia merakit layar darurat. Layar rakitan itu berfungsi ganda: mendorong perahu sekaligus menahan hempasan ombak agar tidak memecah dan membanjiri badan perahu.

"Saya kase berdiri layar untuk kase bajalang perahu supaya ombak tidak picah dalam perahu. Ada pelampung dan terus saya pakai. Ada HP cuma kehabisan baterai. Sempat hubungi di keluarga tapi tidak ada jaringan, dan saat saya hanyut tidak ada sama sekali dapat nelayan lain. Terus perahu saya dibawa arus. Kalau saya punya feeling sudah berada di luar laut negara Indonesia," tuturnya.

Sepuluh Hari Nyaris Tanpa Tidur

Sejak hari pertama hingga hari kesepuluh, Foni hampir tidak pernah tidur nyenyak. Ia hanya memejamkan mata sesaat, lalu terjaga demi memastikan tidak melewatkan kapal yang melintas.

Pada hari kesepuluh, dua kapal besar sempat melintas di kejauhan. Foni berteriak dan melambaikan tangan. Keduanya melaju tanpa henti.

Bekal nasi satu rantang dan dua butir telur goreng buatan Sarfa habis sejak hari pertama. Air minum pun tak tersisa.

"Entah kapal itu dong tara dengar atau tara liat, saya pasrah saja menangis menatap laut, ingat anak istri, orang tua dan keluarga. Bekal makanan saat pergi ke rumpon hanya cukup untuk satu hari saja, berangkat dan pulang memancing tuna," ujar Foni.

Di tengah lapar dan dahaga, ia meringkuk di dalam bak perahu berukuran sekitar 1 meter—seukuran badannya—untuk melindungi kulit dari sengatan matahari siang dan dinginnya angin malam.

Dievakuasi Kapal Berbendera Panama

Setelah 21 hari terombang-ambing, Foni akhirnya ditemukan dan dievakuasi kapal berbendera Panama yang melintas di Samudera Pasifik. Perahu fibernya sudah jauh terseret dari perairan Indonesia.

Kabar selamat itu tiba di Morotai dan langsung disambut keluarga yang selama tiga pekan menunggu tanpa kepastian. Sarfa, yang menyiapkan bekal terakhir pada dini hari 16 Oktober, akhirnya menerima suaminya kembali dalam keadaan hidup.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top