MALUKU UTARA — Provinsi Lampung menyimpan kekayaan kuliner yang jarang tersorot, mulai dari pisro berbahan ikan betok hingga seruwit dengan sambal rampai khas. Hidangan-hidangan ini tersebar di warung dan pasar tradisional di berbagai kabupaten, umumnya disajikan segar dengan harga terjangkau. Buat traveler yang tengah merencanakan perjalanan ke kota gerbang Sumatera, daftar berikut bisa jadi peta rasa untuk dijelajahi.
Kuliner Lampung terbentuk dari keberagaman sumber pangan lokal dan tradisi masyarakat Pepadun. Banyak di antaranya lahir dari bahan sederhana yang diolah dengan rempah kaya, lalu diwariskan turun-temurun lewat acara adat dan keseharian.
Berikut enam hidangan khas Lampung yang layak masuk daftar buruan saat berkunjung ke provinsi paling selatan di Sumatera ini.
Pisro adalah sajian ikan bakar kebanggaan masyarakat Lampung Pepadun. Hidangan ini umumnya dibuat dari ikan betok dan tembakang yang banyak ditemukan di perairan Lampung.
Ikan dibakar, lalu disiram kuah kental yang diracik dari cabai, gula aren, bawang merah, bawang putih, dan terasi. Perpaduan itu menghasilkan cita rasa manis, pedas, sekaligus gurih pada daging ikan yang tebal.
Pisro kerap disajikan dalam acara adat dan perayaan penting, mulai dari pesta rakyat, upacara pernikahan, hingga penyambutan tamu kehormatan.
Geguduh adalah jajanan pasar berbahan dasar pisang yang digemari masyarakat Lampung. Camilan ini paling nikmat dinikmati bersama segelas teh atau kopi hangat.
Potongan pisang kepok dibalut adonan dari campuran tepung terigu, tepung beras, gula, garam, air, dan baking powder. Pisang lalu digoreng hingga renyah berwarna kecoklatan, kadang ditambah daun pandan untuk aroma dan rasa gurih.
Engkak adalah kue tradisional Lampung dengan tampilan mirip lapis legit. Mengutip buku Cita Rasa Lampung (2025), kue ini terbuat dari gula, santan, telur, mentega, dan tepung ketan.
Setiap lapisan dipanggang bergantian hingga menghasilkan tekstur lembut di mulut. Prosesnya menuntut kesabaran dan ketelatenan tinggi.
Seruwit tercipta dari perpaduan ikan bakar, daun-daunan rebus atau mentah, dan sambal rampai. Sambal itu dibuat dari rampai, tomat khas Lampung berukuran kecil, yang dihaluskan bersama garam, terasi bakar, dan cabai merah.
Kombinasi cabai dan tomat memberi sensasi pedas dan asam yang menambah kenikmatan. Meski berbahan sederhana, seruwit masih banyak digemari dan telah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Lampung.
Benjak enjak adalah kudapan tradisional Lampung yang bentuknya mirip wajik atau pepes ketan. Melansir tulisan Ragam Kudapan Sumatra, Bali, NTB, NTT, dan Papua (2023), sajian ini terbuat dari beras ketan, santan, buah pisang raja tua, dan gula pasir.
Adonan dibungkus daun pisang, menghadirkan rasa manis dan legit. Pisang raja sebagai bahan utamanya juga mengandung zat besi dan kalium.
Gulai latuk-latuk sedikit berbeda dari gulai umumnya yang berbahan daging ayam, kambing, atau sapi. Mengutip buku Kuliner Khas Sumatera (2022), latuk-latuk berarti sayur campur aduk, berbahan dasar ikan pindang.
Ikan pindang disajikan bersama aneka sayuran seperti jamur krikit, rebung, kemangi, jagung muda, kacang panjang, dan labu kuning. Kuahnya dari santan yang dicampur bumbu halus kemiri, bawang putih, bawang merah, lengkuas, daun salam, serai, dan cabai merah.
Hidangan-hidangan ini tersedia di warung makan, pasar tradisional, dan rumah makan khas Lampung yang tersebar di sepanjang jalur lintas Sumatera. Untuk engkak dan benjak enjak, keduanya lebih mudah ditemukan sebagai kudapan pasar pada pagi hingga siang hari.
Informasi terkini soal lokasi penjual dan jam operasional dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat atau komunitas kuliner lokal.
Menjelajahi kuliner Lampung bisa menjadi pelengkap perjalanan wisata alam di provinsi ini. Sisihkan waktu khusus untuk mampir ke warung tradisional dan pasar lokal, karena di sanalah rasa asli kota gerbang Sumatera paling jujur tersaji.