Nelayan Ternate Terapung 26 Hari di Samudra Pasifik, Basarnas Catat 49 Operasi SAR Nelayan Maluku Utara

Penulis: Galih Prayoga  •  Sabtu, 19 September 2026 | 19:01:01 WIB

TERNATE — Mesin perahu ketinting bermesin tempel yang ditumpangi Esau Sidemo mati hanya setengah jam setelah berangkat melaut. Arus laut kemudian membawa pria 57 tahun itu ke tengah Samudra Pasifik, ratusan kilometer dari Desa Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua, tempat tinggalnya.

Selama 26 hari, Esau bertahan hidup dengan memakan burung laut, ikan yang melompat ke perahunya, dan kelapa busuk yang hanyut di dekatnya. Ia bahkan meminum urine untuk bertahan.

“Ini seperti mukjizat,” kata Esau kepada Mongabay saat ditemui di kediamannya, akhir Agustus lalu.

Kapal Kargo Prancis Jadi Penyelamat

Pertolongan datang dari kapal kargo berbendera Prancis yang melintas di perairan itu. Awak kapal mengevakuasi Esau dan membawanya ke China sebelum akhirnya ia kembali ke Indonesia.

“Saya selalu berdoa setiap saat agar Tuhan membantu menyelamatkan diri saya. Begitu juga setiap saya bangun pagi tidak merasa sakit walaupun hanya minum air laut dan makan ikan mentah,” ujarnya.

Esau sudah menjadi nelayan sejak remaja. Ia mengaku tidak pernah membayangkan bisa selamat dari kondisi itu.

Nelayan Morotai Tersapu Badai ke Perairan Filipina

Pengalaman serupa dialami Sukri Suleman dan Yusuf Abdul Rahman, dua nelayan tuna asal Desa Loleo, Kecamatan Morotai Jaya, Kabupaten Morotai. BBM perahu mereka habis saat memancing di sekitar rumpon berjarak sekitar 8 mil dari garis pantai.

Peristiwa itu terjadi 3 September 2023 sekitar pukul 04.00. Mereka hanya membawa 15 liter BBM, yang habis sekitar pukul 15.00. Badai kemudian menyapu perahu mereka hingga ke perairan Filipina.

Enam hari terombang-ambing, mereka bertemu nelayan Filipina di sekitar Pulau Palau yang memberi 100 liter BBM. Pada 13 September 2023, keduanya sampai di Miangas sebelum pulang melalui Bitung, Sulawesi Utara.

49 Operasi SAR, 20 Nelayan Masih Hilang

Data Basarnas Ternate hingga Desember 2025 mencatat 49 operasi SAR terhadap nelayan, naik dari 41 operasi pada periode sebelumnya. Dari 31 kasus kecelakaan, 122 orang selamat, tujuh meninggal, dan 20 lainnya masih hilang.

“Geografis Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan aktivitas laut tinggi menjadi faktor utama,” jelas Iwan Ramdani, Kepala Basarnas Ternate.

Rustam Abas, nelayan asal Tidore, meninggal dunia usai terjatuh saat gelombang tinggi menerjang perahunya pada 5 Agustus 2025. Lima bulan sebelumnya, Sudarwin Hasrat dan Udin Rope, nelayan asal Mangga Dua, Ternate, harus dievakuasi setelah perahu mereka hancur diterjang ombak.

Tahun ini, tercatat dua nelayan hilang saat melaut: Abu Bakar Wahid asal Galala Oba Utara, Tidore, pada Februari, dan Maneng Manola asal Desa Sofifi, Halmahera Barat, pada Agustus.

Ikan Menjauh, Nelayan Melaut Lebih Jauh

Nelayan mengaku perubahan pola cuaca membuat musim ikan dan kondisi laut semakin sulit diprediksi. Berkurangnya ikan di wilayah tangkap dekat pantai memaksa mereka mengejar tuna hingga lebih dari 15 mil dari garis pantai.

Konsekuensinya, kebutuhan BBM dan durasi melaut meningkat tajam. Kondisi itu memperbesar risiko kecelakaan, terutama karena perlindungan keselamatan dan jaminan sosial bagi nelayan kecil masih terbatas.

248 Izin Tambang di 43 Pulau Kecil

Selain perubahan iklim, aktivitas pertambangan dan pembangunan di pulau-pulau kecil disebut semakin menekan ruang hidup nelayan. WALHI mencatat sekitar 248 izin pertambangan berada di 43 pulau kecil.

Di sejumlah wilayah seperti Kabaena dan Wawonii, nelayan harus bergeser dari fishing ground akibat pencemaran dan reklamasi. Perubahan itu memaksa mereka menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan yang layak.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: mongabay.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top