MALUKU UTARA — Industri microdrama atau drama vertikal berdurasi pendek tengah mengalami pertumbuhan produksi yang signifikan. Hal itu terungkap dalam panel Access Canada Summit yang digelar di Toronto Film Festival, bekerja sama dengan The Hollywood Reporter, Selasa lalu.
Dalam forum tersebut, para pelaku industri membahas bagaimana format drama vertikal yang awalnya identik dengan cerita romansa dan sinetron kini mulai berkembang ke genre lain. Platform seperti Peacock, Warner Bros., dan Netflix disebut mulai masuk ke pasar ini.
Austin Herring, CEO Snow Story Productions, mengungkapkan bahwa pendekatan Hollywood terhadap microdrama berubah cepat dalam setahun terakhir. Ia menceritakan pengalaman awalnya ketika harus terus-menerus menjelaskan apa itu microdrama kepada industri.
"Di tahun pertama, rasanya kami terus menjelaskan apa ini. Oh, bukan itu. Ini yang benar. Sebenarnya ini jauh lebih besar dari yang Anda sadari," kata Herring.
Ia menambahkan, "Tahun ini adalah tahun di mana Hollywood benar-benar mengambil langkah."
Herring menyoroti bahwa produksi microdrama justru meningkat di tengah penurunan belanja produksi di Hollywood secara umum. Ia menganalogikan bisnis ini dengan penjualan makanan cepat saji.
"Kami membuat konten vertikal, dan ini seperti menjual cheeseburger. Kami dapat 10 sen per cheeseburger, tapi kalau Anda jual cukup banyak, punya McDonald's jauh lebih baik daripada punya restoran steak," ujarnya.
Seiring masuknya pemain besar, genre microdrama pun mulai terdiversifikasi. Cerita tidak lagi terbatas pada drama romansa atau sinetron, tetapi mulai merambah komedi, mengikuti tren YouTube Shorts dan Instagram Reels.
Perubahan lain terlihat pada model bisnis. Aplikasi microdrama mulai bergeser dari model paywall menuju pendapatan berbasis langganan. Pergeseran ini membuka ruang lebih luas bagi variasi konten.
Jeffrey Schenck, pendiri VertTV, studio microdrama yang berbasis di Los Angeles, melihat format ini sebagai televisi baru bagi penonton. Ia sebelumnya telah memproduksi lebih dari 200 film TV untuk Lifetime dan Hallmark.
"Saya melihatnya sebagai arah di mana TV bisa berkembang, sedang berkembang, dan seharusnya berkembang," kata Schenck dalam panel tersebut.
Herring sedikit berbeda pendapat. Ia menilai microdrama lebih dari sekadar TV yang kini semakin premium, melainkan mengingatkan pada medium televisi beberapa dekade lalu.
"Ini semacam hiburan yang menyenangkan dan sederhana, yang dulu lebih sering kita dapatkan dari TV," argumennya.
Di tengah fokus studio besar pada olahraga dan live action, serta produsen konten di China yang mengarah ke AI generatif, panel mempertanyakan apakah cerita pendek hasil AI bisa menjadi ancaman bagi drama vertikal. Belakangan, sektor ini memang dibanjiri judul-judul yang dihasilkan AI.
"Saya harap tidak," kata Schenck. "Bukan karena saya menentang AI. Itu bagian dari hidup kita, saya tahu. Tapi ada sesuatu tentang energi di lokasi syuting. Apa yang dibawa aktor, penulis, dan sutradara, ya, tapi kontribusi manusia itu sangat bernuansa."
Schenck menegaskan bahwa aktor, penulis, dan sutradara membawa "energi" vital ke lokasi syuting yang tidak bisa digantikan oleh alat AI.
Diskusi ini menunjukkan bahwa meski microdrama tumbuh pesat, industri masih memegang prinsip bahwa elemen manusia tetap menjadi pembeda utama dalam produksi konten.