TAKALAR — Kepanikan warga Takalar memuncak pada pekan ini. Truk tangki Pertamina yang melintas di depan SPBU Panaikang langsung dihadang massa yang sudah kehabisan kesabaran menunggu antrean bahan bakar.
Massa memaksa armada tersebut berbelok dan mencurahkan muatan Pertalite-nya ke SPBU Panaikang. Padahal, truk itu semestinya melanjutkan perjalanan membawa pasokan ke titik distribusi lain di Kabupaten Bulukumba.
Kelangkaan BBM di Takalar bukan kejadian sehari. Warga melaporkan stok Pertalite, Pertamax, dan Solar mulai menipis sejak sepekan terakhir, memaksa mereka mengantre lebih dari 10 jam di sejumlah SPBU.
Kondisi itu memicu frustrasi kolektif. Ketika satu truk tangki akhirnya terlihat melintas, warga yang sudah menunggu sejak pagi tidak mau melepas kesempatan begitu saja — meski harus menempuh cara di luar prosedur distribusi resmi.
Ketegangan sempat memanas di lokasi kejadian. Aparat kepolisian yang bersiaga langsung turun tangan menenangkan massa dan memediasi agar truk tangki bisa melanjutkan perjalanan ke tujuan semula.
Kelangkaan ini menghantam langsung pengendara harian, pedagang, dan pelaku usaha kecil di Takalar yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari nafkah. Antrean panjang di SPBU juga menguras waktu produktif warga.
Solar menjadi jenis BBM paling kritis. Pasokan yang tersendat memukul angkutan barang dan kendaraan niaga yang menjadi tulang punggung distribusi kebutuhan pokok antarwilayah di Sulawesi Selatan bagian selatan.
Kejadian di Panaikang menunjukkan persoalan ini bukan lagi sekadar keluhan antrean, melainkan sudah merembet ke ketertiban umum. Warga yang panik bisa berbuat nekat ketika akses terhadap bahan bakar dasar tidak tersedia.
Insiden pengadangan truk tangki membuka persoalan lebih besar: distribusi BBM di Sulawesi Selatan tengah bermasalah. Truk yang seharusnya menuju Bulukumba justru menjadi sasaran warga Takalar yang kehabisan stok.
Artinya, ada ketidaksesuaian antara jadwal pasokan dan kebutuhan riil di lapangan. Jika dibiarkan, titik-titik distribusi lain di wilayah sekitar berpotensi mengalami kelangkaan serupa dalam waktu dekat.
Pemerintah daerah dan Pertamina belum merilis pernyataan resmi soal penyebab pasti kelangkaan maupun jadwal normalisasi pasokan. Namun desakan warga di Panaikang menjadi sinyal bahwa penanganan cepat tidak lagi bisa ditunda.
Kelangkaan BBM di Takalar menambah daftar persoalan distribusi energi di daerah yang membutuhkan respons lintas instansi — dari Pertamina sebagai penyalur, pemerintah kabupaten sebagai pengawas, hingga aparat keamanan yang harus menjaga ketertiban saat antrean memanas.