Pemprov Maluku Utara Perpanjang Modifikasi Cuaca hingga 12 September, 6 Ton Garam Disemai di Atmosfer

Penulis: Jamal Nasution  •  Sabtu, 12 September 2026 | 06:16:02 WIB
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda memberikan keterangan pers di Bandara Sultan Baabullah, Ternate.

TERNATE — Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyatakan perpanjangan operasi ditempuh karena potensi awan hujan yang bisa disemai masih tersedia. Operasi lanjutan diarahkan ke wilayah yang belum menjadi sasaran sebelumnya.

Ia menyebut sejumlah daerah baru itu mencakup Kota Ternate, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu, dan Halmahera Selatan.

Terima Kasih untuk Intervensi OMC

Dalam keterangan pers di apron Bandara Sultan Baabullah, Ternate, Kamis, 10 September 2026, Sherly menyampaikan apresiasi atas intervensi yang berjalan.

"Saya mewakili Pemerintah Provinsi Maluku Utara, pemerintah kabupaten/kota, serta 1,4 juta warga Malut mengucapkan terima kasih atas intervensi OMC ini," kata Sherly.

Menurutnya, hujan yang turun usai penyemaian awan ikut memadamkan sejumlah titik api.

64 Titik Api dan 260 Hektare Lahan Terdampak

Ancaman karhutla menguat sejak akhir Agustus 2026. Ketika itu terdeteksi sekitar 64 titik api dengan luas lahan terdampak mencapai 260 hektare.

Pemprov Maluku Utara lantas melayangkan surat permohonan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada pekan keempat Agustus. Armada pesawat penyemai garam tiba awal September dan mulai beroperasi pada 5 September.

Intervensi OMC disebut mulai memperlihatkan hasil di sejumlah wilayah. Hujan setelah penyemaian awan membantu memadamkan beberapa titik api di Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Halmahera Utara, Pulau Morotai, dan Kota Tidore Kepulauan.

Sherly mengapresiasi sinergi BNPB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI-Polri, pemerintah daerah, serta tim penerbang dalam pelaksanaan operasi tersebut.

Puncak Kemarau dan Larangan Buka Lahan dengan Membakar

Kepala Stasiun BMKG Sultan Baabullah Ternate Desindra Deddy Kurniawan menjelaskan, September secara historis merupakan puncak musim kemarau di Maluku Utara. Tahun ini kondisi tersebut diperparah fenomena El Nino kuat.

Musim hujan secara alami diperkirakan baru masuk pada akhir Oktober atau awal November. "Secara teoritis, potensi hujan alami pada September hampir tidak ada. Namun, melalui intervensi modifikasi cuaca pada wilayah tutupan awan potensial, hujan berintensitas ringan hingga sedang berhasil diturunkan," kata Desindra.

Sherly meminta bupati dan wali kota meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak kemarau. Ia mengingatkan warga tidak membuka lahan dengan cara membakar karena kondisi tanah dan vegetasi yang kering membuat api mudah menyebar.

"Saya meminta kepada seluruh warga masyarakat yang ingin membuka lahan, jangan sekali-kali melakukannya dengan cara membakar. Dalam kondisi tanah dan vegetasi yang sangat kering, percikan api kecil bisa memicu kebakaran besar yang sangat sulit dipadamkan," ujarnya.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: istanafm.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top