MALUKU UTARA — Berdasarkan data pasar pada pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda bergerak di zona merah bersama mayoritas mata uang kawasan. Depresiasi rupiah masih relatif tertahan jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang tetangga, seperti peso Filipina dan ringgit Malaysia yang sama-sama melemah 0,15 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari eksternal. Indeks dolar AS menguat setelah data Non Farm Payrolls (NFP) edisi terbaru dirilis lebih tinggi dari ekspektasi pasar, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya lebih lama.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang rebound setelah data pekerjaan AS NFP yang lebih kuat dari perkiraan. Namun, pelemahan diperkirakan terbatas, dengan investor wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini," ujarnya, Senin (7/9).
Tekanan dolar AS terasa hampir merata di pasar Asia. Berdasarkan data yang dihimpun hingga pagi ini:
Di sisi lain, yen Jepang justru menguat 0,15 persen dan won Korea Selatan terapresiasi 0,25 persen, sementara dolar Hong Kong terpantau stabil.
Hal serupa terjadi di negara maju. Euro Eropa melemah tipis 0,01 persen, poundsterling Inggris turun 0,05 persen, dan dolar Australia terdepresiasi 0,01 persen. Franc Swiss juga melemah 0,05 persen, sedangkan dolar Kanada masih bertahan stabil.
Pelaku pasar disebut tengah menahan diri untuk melakukan aksi jual lebih agresif. Perhatian utama tertuju pada rilis data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan keluar siang ini. Angka tersebut akan menjadi indikator ketahanan eksternal ekonomi nasional di tengah gejolak nilai tukar global.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini akan berkisar di rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. Level psikologis Rp17.700 menjadi resistance terdekat yang perlu diwaspadai apabila tekanan dolar AS berlanjut.
Investasi mengandung risiko.