Kisah Ibu Vicky Prasetyo Terancam Dilaporkan: Pelajaran Bijak Bermedia Sosial untuk Orang Tua

Penulis: Indra Firmansyah  •  Selasa, 01 September 2026 | 15:08:01 WIB
Emma Fauziah, ibunda Vicky Prasetyo, terancam dilaporkan atas dugaan penghinaan di kolom komentar media sosial.

MALUKU UTARA — Perseteruan hukum yang membelit Vicky Prasetyo kembali memanas. Kali ini, bukan sang pesulap yang menjadi sorotan, melainkan ibunda tercinta, Emma Fauziah. Ia disebut-sebut akan segera dilaporkan ke pihak berwajib oleh kuasa hukum pelapor Vicky dalam kasus dugaan penipuan. Laporan tersebut direncanakan bukan karena Vicky, melainkan karena ulah Emma di kolom komentar media sosial.

Awal Mula Permasalahan: Komentar di Kolom Komentar

Kuasa hukum pelapor, Emanuel Alvino, mengungkapkan bahwa laporan terhadap Emma Fauziah terkait dengan dugaan penghinaan. Peristiwa ini berawal dari sebuah unggahan video konferensi pers yang dilakukan oleh pihak pelapor. Di video itulah, sang ibunda Vicky diduga melontarkan kalimat tidak pantas yang menyinggung pihak lain.

"Ada di salah satu video press conference yang kami lakukan, Ibu VP itu malah melakukan penghinaan di situ. Dan sangat kasar sekali," ujar Alvino kepada awak media.

Pihak pelapor pun telah memiliki bukti kuat berupa tangkapan layar atau screenshot dari komentar tersebut. Bukti ini rencananya akan dijadikan barang bukti utama dalam laporan polisi yang akan segera dilayangkan.

Pentingnya Menjaga Ucapan di Dunia Maya

Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya para orang tua, bahwa jejak digital itu bersifat permanen dan bisa berujung pada masalah hukum. Seringkali, kita menulis komentar tanpa berpikir panjang, terbawa emosi sesaat, atau sekadar bercanda. Padahal, apa yang kita tulis bisa dilihat oleh siapa saja dan berpotensi menyinggung orang lain.

Perlu diingat, UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) di Indonesia mengatur dengan jelas tentang pencemaran nama baik dan ujaran kebencian di dunia maya. Sebuah komentar sekecil apa pun, jika dirasa menghina atau mencemarkan nama baik seseorang, maka bisa diproses secara hukum. Ini bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga menyangkut konsekuensi hukum yang nyata.

Menjadi Teladan yang Baik bagi Anak

Sebagai orang tua, kita adalah panutan pertama bagi anak-anak kita. Cara kita berinteraksi di media sosial, termasuk saat berkomentar, akan menjadi contoh yang mereka tiru. Jika kita sering berkomentar negatif, kasar, atau memicu perdebatan, anak-anak kita pun bisa tumbuh dengan kebiasaan yang sama.

Momen seperti ini bisa menjadi bahan obrolan hangat bersama keluarga. Kita bisa mengajak anak berdiskusi tentang pentingnya berpikir sebelum mengetik, berempati pada orang lain, dan memilih kata-kata yang santun. Beri tahu mereka bahwa di balik setiap akun media sosial, ada manusia nyata dengan perasaan yang bisa terluka.

Langkah Bijak Sebelum Menekan Tombol Kirim

Ada beberapa hal sederhana yang bisa kita praktikkan sebelum berkomentar di media sosial. Pertama, baca kembali komentar kita dan renungkan apakah ada makna ganda yang bisa menyinggung. Kedua, tanyakan pada diri sendiri: apakah komentar ini perlu, benar, dan bermanfaat? Ketiga, jika sedang marah atau kecewa, sebaiknya tunda dulu untuk menulis komentar dan tuntaskan emosi terlebih dahulu.

Menjaga lisan dan tulisan adalah bentuk perlindungan bagi diri sendiri dan keluarga. Lebih baik kita fokus pada hal-hal yang membangun dan memberikan energi positif, daripada terlibat dalam perdebatan yang tidak ada ujungnya. Kehidupan digital yang sehat dimulai dari kebiasaan kita sendiri di rumah.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk kita semua. Mari kita jadikan media sosial sebagai ruang yang aman dan nyaman untuk berbagi, bukan untuk saling menjatuhkan.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: lifestyle.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top