Program Listrik Gratis PLN untuk 100 KK di Sekitar PLTA Upper Cisokan: Daya 900 VA, tapi Cakupan Masih Terbatas

Penulis: Jamal Nasution  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 16:19:31 WIB
Petugas memasang sambungan listrik baru untuk warga di Desa Sarinagen, Bandung Barat, dalam program penyambungan gratis PLN.

MALUKU UTARA — Pemerataan akses listrik di Jawa Barat mengambil langkah konkret lewat program penyambungan gratis yang menyasar warga prasejahtera di sekitar proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan. Sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK) di Desa Sarinagen dan Desa Karangsari kini resmi menikmati aliran listrik mandiri dengan kapasitas daya 900 VA—bukan lagi menumpang atau menggunakan sumber tidak resmi.

Realisasi Juni 2026: 100 KK Tersambung, 900 VA per Rumah

Pemasangan sambungan baru ini direalisasikan pada Juni 2026. Setiap penerima manfaat mendapatkan daya 900 VA, standar yang cukup untuk kebutuhan dasar rumah tangga seperti penerangan, televisi, dan kulkas kecil. Angka ini penting: 900 VA adalah titik masuk layanan listrik pascabayar yang paling umum di Indonesia, bukan sekadar sambungan simbolis 450 VA yang kerap dipakai program serupa.

Yang perlu digarisbawahi, program ini bukan bagian dari proyek PLTA Upper Cisokan itu sendiri, melainkan program sosial yang digulirkan berkat Kesepakatan Bersama antara Pemprov Jabar dan PLN mengenai penyediaan tenaga listrik berkelanjutan. Artinya, ada komitmen struktural di balik pemasangan ini, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Target Gubernur: Tidak Ada Warga Jabar Tanpa Listrik

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya menegaskan tidak boleh ada masyarakat Jawa Barat yang hidup tanpa akses listrik. Pernyataan itu kini mulai diwujudkan dalam bentuk sambungan fisik di lapangan. Namun, dari total populasi di dua desa yang menjadi lokasi program, baru 100 KK yang tersambung di gelombang pertama.

Pertanyaan yang muncul: berapa total KK prasejahtera yang belum tersambung di Sarinagen dan Karangsari? Bahan resmi tidak menyebutkan angka kebutuhan total, sehingga sulit menilai apakah 100 KK ini sudah memadai atau baru sebagian kecil dari keseluruhan. Ini catatan penting—program yang baik tetap perlu diukur dari cakupan penuhnya, bukan hanya dari jumlah yang sudah direalisasikan.

Dampak Langsung: Akses Aman dan Andal untuk Kebutuhan Harian

Dengan sambungan resmi ini, warga tidak lagi bergantung pada jaringan tidak resmi yang rawan kecelakaan atau pemadaman mendadak. PLN menjamin pasokan yang lebih stabil, yang berdampak langsung pada aktivitas sehari-hari: anak-anak bisa belajar di malam hari dengan penerangan yang layak, usaha mikro rumahan bisa beroperasi lebih lama, dan peralatan elektronik tidak mudah rusak akibat fluktuasi tegangan.

Daya 900 VA juga memberi ruang bagi warga untuk mengajukan tambah daya di kemudian hari jika kebutuhan meningkat—sesuatu yang tidak bisa dilakukan jika sambungan awal hanya 450 VA.

Yang Perlu Diperhatikan: Skala Program dan Keberlanjutan

Meski langkah ini patut diapresiasi, ada beberapa hal yang perlu dipantau ke depan:

  • Cakupan masih terbatas—100 KK di dua desa adalah angka kecil jika dibandingkan potensi total warga prasejahtera di sekitar proyek PLTA Upper Cisokan yang membentang di wilayah Bandung Barat.
  • Tidak ada info jadwal gelombang berikutnya—bahan resmi tidak menyebutkan kapan penyambungan tahap kedua akan dilakukan, sehingga warga yang belum kebagian tidak punya kepastian waktu.
  • Program ini bergantung pada komitmen politik—Kesepakatan Bersama Pemprov Jabar dan PLN adalah payung hukum yang baik, tapi eksekusinya perlu dipantau agar tidak berhenti di gelombang pertama.

Verdict: Langkah Benar, Tapi Jangan Berhenti di 100 KK

Program sambungan listrik gratis ini adalah contoh konkret kolaborasi BUMN dan pemerintah daerah yang hasilnya bisa langsung dirasakan masyarakat. Daya 900 VA adalah standar yang masuk akal, lokasi sasaran tepat (warga di sekitar proyek PLTA), dan waktu realisasi jelas (Juni 2026).

Namun, keberhasilan program ini tidak bisa diukur hanya dari 100 KK yang sudah tersambung. Ukuran sebenarnya adalah seberapa cepat gelombang berikutnya berjalan dan apakah target "tidak ada warga Jabar tanpa listrik" punya peta jalan yang jelas. Untuk warga Sarinagen dan Karangsari yang belum tersambung, program ini masih menjadi harapan—bukan kenyataan.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: jabarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top