MALUKU UTARA — Pertandingan yang berlangsung ketat di stadion megah Amerika Serikat itu menjadi akhir pahit bagi generasi emas Portugal. Ronaldo, yang masih mampu menyumbang tiga gol sepanjang turnamen, harus mengakui keunggulan La Roja yang tampil lebih efektif di laga hidup mati tersebut.
Ketiadaan trofi Piala Dunia di lemari koleksi Ronaldo memang menjadi celah besar dalam narasi kehebatannya. Tiga nama abadi—Lionel Messi, Pele, dan Diego Maradona—semua pernah mengangkat trofi tersebut, sementara CR7 belum pernah merasakannya dalam enam edisi sejak 2006.
Data statistik mencatat, dari enam partisipasi, pencapaian terbaik Ronaldo adalah semifinal pada 2006. Sisanya, Portugal selalu terhenti di babak 16 besar atau fase grup. Catatan ini kerap digunakan untuk mempertanyakan statusnya dalam jajaran pemain terhebat sepanjang masa.
Namun, legenda Arsenal dan Barcelona, Thierry Henry, dengan tegas membela rekan setimnya di Real Madrid itu. Henry menilai bahwa mengukur kehebatan seorang pemain hanya dari satu turnamen adalah tindakan yang keliru.
"Banyak pemain hebat tidak pernah memenangkan Piala Dunia, dan itu tidak menentukan warisan mereka. Warisannya tidak tersentuh," ujar Henry kepada FOX Sports.
Argumen Henry memang memiliki pijakan kuat. Ronaldo adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa di sepak bola pria dan pemain dengan gol internasional terbanyak. Trofi Liga Champions, Ballon d'Or, dan gelar liga di Inggris, Spanyol, serta Italia menjadi bukti konsistensi level elit selama dua dekade.
Piala Dunia 2026 memang menjadi kesempatan terakhirnya. Namun, kegagalan di turnamen ini tidak serta-merta menghapus fakta bahwa ia telah mendefinisikan ulang standar kehebatan individu dalam sepak bola modern.