TIDORE — Dosen Sosiologi FISIP UMMU, Herman Oesman, menuliskan bahwa epistemologi Tidore lahir dari perpaduan antara tradisi lisan, adat istiadat, ajaran Islam, dan pengalaman panjang sebagai kesultanan kepulauan-maritim di kawasan Maluku dan Papua. Sistem pengetahuan ini, menurutnya, memandang kehidupan sebagai kesatuan antara dunia material dan spiritual.
"Epistemologi Tidore, bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi masa depan Indonesia," tulis Herman dalam artikel yang dimuat di tandaseru.com.
Masuknya Islam ke Tidore sejak era kolano awal, tepatnya di bawah kepemimpinan Kolano Ciriliyati yang pertama menggunakan gelar Sultan (Sultan Jamaluddin), membawa perubahan besar. Islam tidak hanya menjadi agama resmi kesultanan, tetapi juga menjadi fondasi etika, hukum, pendidikan, dan tata pemerintahan.
Para sultan Tidore membangun legitimasi kekuasaan melalui perpaduan antara syariat Islam dan adat lokal. Prinsip "adat bersendi syariah dan syariah bersendi Kitabullah" menjadi pegangan masyarakat Tidore dalam menjaga identitas budaya sekaligus komitmen terhadap ajaran agama.
Tokoh besar yang lahir dari tradisi intelektual dan politik Kesultanan Tidore adalah Sultan Nuku. Ia memimpin perlawanan panjang terhadap kolonialisme Belanda sejak tahun 1780 hingga berhasil merebut kembali Tidore pada 1797. Sejarawan Leonard Andaya menyebut Nuku sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Maluku karena kemampuannya mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat dalam satu gerakan politik bersama.
Keberhasilan Nuku tidak semata-mata karena kemampuan militernya, tetapi juga karena pengetahuannya tentang geopolitik kawasan. Ia memahami bahwa kekuasaan kolonial harus dilawan melalui jaringan solidaritas yang luas. Perjuangan Nuku menunjukkan bahwa pengetahuan harus digunakan untuk membela martabat manusia dan mempertahankan kedaulatan.
Tokoh besar lainnya adalah Sultan Zainal Abidin Alting Syah, Sultan Tidore ke-26 yang memimpin pada masa transisi menuju Indonesia merdeka. Berbeda dengan Nuku yang berjuang melawan kolonialisme, Zainal Abidin menghadapi tantangan integrasi bangsa.
Pengetahuan lokal mengenai laut, pelayaran, perdagangan rempah-rempah, dan hubungan antar-pulau diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat Tidore. Ulama, guru agama, dan pemimpin adat memperoleh posisi terhormat dalam masyarakat karena ilmu dipandang sebagai sarana mencapai kebijaksanaan, bukan sekadar alat memperoleh kekuasaan.