TIDORE — Ma’ruf Badar bukan nama yang muncul di panggung politik atau birokrasi. Kesehariannya lekat dengan urusan masjid dan pendidikan. Namun di lingkungan kerjanya dulu, ia dikenal sebagai staf yang jarang menonjolkan diri tapi selalu bisa diandalkan.
Pria ini menjabat pengurus DKM Masjid Shafful Khairaat, Sofifi, ibu kota Provinsi Maluku Utara. Ia juga kakak kandung Jihadiyah Badar, qaria yang pernah menjuarai MTQ tingkat dunia. Latar keluarga itu membentuk cara pandangnya soal agama dan kehidupan sehari-hari.
Ma’ruf lahir dari keluarga yang orientasi hidupnya sangat dekat dengan nilai-nilai keagamaan. Prinsip hidup yang diyakininya amat kuat. Saudara-saudaranya ada yang menjadi mubalig, guru agama, guru ngaji, bahkan qaria juara dunia.
Menyebut kiprah Muhammadiyah di Kota Tidore Kepulauan maupun Maluku Utara secara umum terasa tidak lengkap tanpa menyebut keluarga ini. Kontribusi mereka tersebar di berbagai bidang keagamaan dan kemasyarakatan.
Anwar Husen, pemerhati sosial dan Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara, pernah menjadi atasan Ma’ruf di Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan. Ia menyebut Ma’ruf sebagai tipe pekerja keras, peduli, loyal, dan penuh inisiatif.
“Ma’ruf adalah orang yang dengan segala risiko bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya demi memperjuangkan suatu nilai yang diyakininya benar,” ujar Anwar.
Bagi Anwar, Ma’ruf merepresentasikan sosok ideal seorang staf. Ia merasa memiliki “bamper” yang cukup ketika berhadapan dengan beragam kepentingan pribadi di kantor. Saat itu, kantor tersebut mengelola orang, aset, dan uang daerah yang tidak sedikit.
Pada 2016, Ma’ruf pindah tugas sebagai ASN di Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Ia kembali menjadi staf di Dinas Pendidikan Provinsi. Perpindahan itu membawanya ke lingkungan kerja baru yang lebih luas dan kompleks.
Salah satu sisi Ma’ruf yang menarik perhatian adalah sikapnya soal fungsi pengeras suara di masjid. Ia menekankan bahwa pengeras suara di dalam dan di luar masjid memiliki fungsi berbeda. Fungsi utamanya adalah azan, bukan untuk hal lain yang tidak jelas dalilnya.
“Setiap orang sibuk dengan urusannya mencari nafkah hidup. Kita tidak mungkin memaksakan orang lain untuk mengikuti selera kita yang juga belum jelas dalilnya,” kata Ma’ruf dalam diskusi di sebuah warung kopi di Tidore.
Ia menyoroti potensi keberagaman latar belakang agama di kawasan Sofifi. Menurutnya, tidak mungkin memaksakan seorang pendeta mendengarkan pengajian dari menara masjid. Pandangan ini ia sampaikan dengan argumentasi yang runtut dan logis.
Ma’ruf menegaskan bahwa ajaran agama harus dipahami secara utuh. Bukan sekadar ikut-ikutan kebiasaan yang berpotensi terjebak riya tanpa disadari, ataupun taklid buta.
Pada kasus tertentu, ia bahkan berargumen bahwa dirinya adalah guru mengaji dari Jihadiyah Badar. Sementara itu, mereka yang berdebat soal pengeras suara mungkin belum pernah mengikuti lomba MTQ, atau bahkan belum pernah menjuarai lomba tingkat kecamatan sekalipun.
Cara Ma’ruf menjelaskan pandangan dan pendapatnya dikenal logis, runtut, dan kuat. Tidak mudah menyanggahnya. Sisi inilah yang kerap membuat dirinya layak dikagumi oleh rekan-rekan kerjanya.
Anwar mengaku pernah menjadi atasan dari seorang Ma’ruf adalah keindahan tiada tara dalam karier, bahkan dalam hidupnya. Ia merindukan tipikal staf seperti itu, meski jarang diakui secara terbuka.
Dalam obrolan santai semalam, tema manajemen pengelolaan operasional masjid menjadi pembahasan utama. Ma’ruf tidak main-main dalam menjaga reputasi Masjid Shafful Khairaat, masjid raya megah di jantung Sofifi.
Diskusi itu juga menyinggung frasa “mabuk agama” yang kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengamalkan agama secara berlebihan. Ma’ruf mengutip frasa itu sebagai bagian dari argumentasinya soal pemahaman agama yang harus proporsional.