Bos Aprilia Sindir Ducati soal Team Order di MotoGP 2026

Penulis: Kemal Batubara  •  Selasa, 03 November 2026 | 17:03:01 WIB
CEO Aprilia Massimo Rivola membalas pernyataan Marc Marquez soal dugaan team order di MotoGP 2026.

MALUKU UTARA — CEO Aprilia Massimo Rivola membalas tuduhan Marc Marquez soal team order dengan sindiran tajam ke Ducati. Rivola menyebut Ducati lebih dulu memainkan strategi tim di Australia lewat Alex Marquez. Polemik ini memanaskan persaingan gelar juara dunia yang kini dikuasai Marquez dengan keunggulan 44 poin.

Pernyataan Marc Marquez soal dugaan team order di kubu Aprilia berbuntut panjang. Rivola merespons dengan nada sinis, merujuk langsung ke sprint race MotoGP Australia di Phillip Island sebagai contoh nyata praktik serupa di Ducati.

Marquez Soroti Manuver Ogura di Sprint Race Malaysia

Isu team order mencuat setelah sprint race MotoGP Malaysia. Marco Bezzecchi menyalip Ai Ogura di menit akhir untuk merebut posisi ketiga, lalu keduanya terlibat tabrakan di balapan utama.

Marquez menilai Ogura sengaja bertahan di depan demi menjaga peluang podium. Pebalap Ducati itu menyebut Ogura tak mungkin berada di antara dirinya dan Bezzecchi karena bakal memotong poin rekan setimnya.

"Ogura berusaha tetap berada di depan saya, karena jika tidak, dia akan kehilangan podium. Dia tak bisa ada di posisi antara saya dan Bezzecchi, karena dia akan mengambil poin darinya," kata Marquez, dikutip dari DAZN.

Rivola Balas dengan Sindiran ke Ducati

Rivola tidak tinggal diam. Bos Aprilia itu menyebut komentar Marquez tak menarik perhatiannya, lalu melempar sindiran soal praktik team order di rumah sendiri.

"Sejujurnya, apa yang dikatakan Marc tidak terlalu menarik minat saya," ujar Rivola kepada DAZN.

"Juga karena saya pikir mereka memainkan strategi tim di rumah, bersama keluarga mereka," sambungnya.

Sindiran Rivola merujuk pada sprint race Australia, saat Alex Marquez mengaku tak mengambil risiko menyalip kakaknya demi kemenangan. Andai Alex menang dan Marc finis di belakang, keunggulan Marquez atas Jorge Martin seharusnya hanya tujuh poin, bukan 10 poin.

Ducati Buka Suara soal Arahan ke Pebalap

General Manager Ducati Corse Gigi Dall'Igna turut menanggapi polemik ini. Dall'Igna menegaskan pabrikan boleh memberi arahan, tetapi harus menghormati keselamatan dan hak setiap pebalap.

"Ini adalah olahraga dan, pertama-tama, kita harus menghormati semua pebalap yang berlomba dan mempertaruhkan nyawa mereka di atas sepeda motor," terang Dall'Igna.

"Jelas bahwa para produsen dapat meminta sesuatu, tetapi mereka harus berhenti di titik di mana rasa hormat kepada individu dan kepada pengendara," sambungnya.

Dall'Igna juga menyinggung hubungan keluarga Marc dan Alex yang dinilai memudahkan situasi. Menurutnya, arahan ke pebalap Ducati hanya sebatas menghindari masalah dengan rekan satu merek.

"Kami sudah pernah melakukan ini; Marc dan Alex bersaudara, jadi mungkin itu bikin segalanya lebih mudah. Yang kami sampaikan kepada para pebalap kami adalah supaya tidak terlibat masalah dengan pebalap dari merek yang sama, dan sejauh ini, selain di awal kejuaraan, semuanya berjalan sangat lancar," tukas Gigi.

Peta Persaingan Gelar Menuju Qatar

Keunggulan Marquez melebar jadi 44 poin setelah memenangi Grand Prix Malaysia. Martin harus mundur karena cedera pergelangan tangan, sementara Bezzecchi tertinggal 67 poin.

Dengan selisih sebesar itu, Marquez berpeluang mengunci gelar juara dunia di Qatar. Aprilia masih mengejar titel perdana mereka di kelas premier, dan tekanan soal team order justru menambah panas duel di sisa musim.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top