Taiwan Uji Sistem Drone Otonom untuk Kawal Perairan dari Kapal Penjaga Pantai

Penulis: Kemal Batubara  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:48:31 WIB
Armada drone otonom Taiwan menjalani simulasi terbang dua detasemen untuk misi pengawasan maritim.

MALUKU UTARA — Dewan Urusan Kelautan Taiwan mengembangkan sistem otonom yang memungkinkan armada drone berkoordinasi menjalankan misi pengawasan maritim tanpa campur tangan manusia. Proyek bersama National Cheng Kung University ini sudah menuntaskan simulasi terbang dua armada drone, masing-masing 10 unit, dan kini bersiap masuk tahap uji terbang di area laut sesungguhnya.

Pengembangan sistem otonom untuk armada drone menjadi prioritas Dewan Urusan Kelautan Taiwan dalam merespons aktivitas yang dikategorikan sebagai "grey-zone" di perairan sekitar pulau. Pendekatan yang dipilih bukan lagi mengendalikan satu pesawat secara terpisah, melainkan mengoordinasikan dua detasemen drone sekaligus dalam satu simulasi terbang.

Kolaborasi dengan National Cheng Kung University itu telah menyelesaikan tahap kedua proses: peralihan dari kendali pesawat tunggal ke koordinasi dua detasemen drone. Setiap detasemen berisi 10 unit, sehingga total 20 drone diterbangkan bersamaan dalam simulasi.

Mengapa Taiwan Butuh Drone Otonom

Proyek ini dirancang membantu Administrasi Penjaga Pantai Taiwan (CGA) menghadapi taktik grey-zone Beijing di perairan sekitar pulau. Sejumlah insiden sudah tercatat, termasuk kapal sipil China yang merusak kabel bawah laut yang menjadi tulang punggung konektivitas Taipei.

CGA memperketat patroli pertahanan di sekitar 24 kabel bawah laut dan memantau ketat hampir seratus kapal yang terafiliasi dengan China. Meski begitu, kapal-kapal "riset" China masih terpantau berputar-putar di atas kabel bawah laut Taiwan–AS, meniru pola yang biasa dilakukan kapal pukat Rusia di Atlantik.

Simulasi Terbang dan Aturan Formasi

Para peneliti memprogram drone dengan jarak pemisahan minimum 100 kaki dalam ruang 3D. Formasi leader-follower dan penghindaran rintangan dinamis juga diterapkan agar drone bisa merespons kondisi laut yang berubah cepat, termasuk bahaya tak terduga di laut terbuka.

Sistem otonom yang digarap Taipei memungkinkan berbagai tipe drone berkoordinasi, membagi tugas, dan merencanakan rute, terutama untuk pengawasan maritim. Logikanya mirip angkatan udara yang mengoperasikan beberapa jenis pesawat untuk misi berbeda.

Tiga Drone yang Jadi Fokus

Proyek ini saat ini memusatkan perhatian pada tiga drone buatan Barat: Jump 20, V-BAT, dan Flexrotor. Dewan Urusan Kelautan baru saja menerima unit V-BAT, drone VTOL produksi perusahaan pertahanan AS Shield AI.

V-BAT bisa lepas landas vertikal dari dek kapal non-kapal induk yang relatif sempit dan menawarkan daya tahan terbang lebih dari 12 jam untuk misi panjang. Karakter itu membuatnya cocok untuk CGA karena tidak perlu merenovasi besar-besaran kapal yang ada, sekaligus memperluas jangkauan operasi.

Tahap Uji Berikutnya

Dewan Urusan Kelautan menyebut tahap selanjutnya mencakup pengujian hardware-in-the-loop, integrasi prototipe, dan uji terbang di area maritim nyata. Pengujian itu untuk menilai keandalan sistem pada kondisi laut dan cuaca yang berbeda.

Bagi CGA, kemampuan armada drone otonom berarti jangkauan dan daya tahan kapal penjaga pantai bisa diperpanjang tanpa harus menambah jumlah kapal. Sistem ini menyasar kebutuhan pengawasan maritim rutin, bukan operasi tempur skala penuh.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: tomshardware.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top